Aggregation Center ini merupakan fasilitas daur ulang yang baru diresmikan pada Kamis (26/9). Di mana, konsen awal untuk mengajk masyarakat agar bijak berplastik.
Meski menjadi site ke sembilan di Indonesia, President Director POPSEA, Ltd, Daniel Law Angelo mengatakan fasilitas daur ulang ini merupakan yang pertama untuk Pulau Kalimantan.
“Kita mentargetkan pertumbuhan yang terus atau continue agar bisa menjangkau dari Sumatera, Jawa, sampai ke Indonesia Timur,” kata Daniel.
Daniel menjelaskan dibutuhkan Rp20 miliar untuk menghadirkan Aggregation Center ini. POPSEA sendiri berdiri sejak tahun 2021, dan mulai operasi di 2022 lalu.
Dari keseluruhan Aggregation Center ini, Daniel menyebutkan ada beberapa tantangan dalam industri ini. Maka itulah mengapa yang paling efektif dengan multisektor colaborasi.
“Jadi kita tidak sendiri kita dibantu dengan Danone. Dengan Danone kita kolaborasi yang pertama di Aggregation Center,” imbuhnya.
Sementara itu, Sustainable Development Director Danone Indonesia, Karyanto Wibowo menjelaskan peresmian fasilitas daur ulang Samarinda ini adalah hasil kolaborasi AQUA dengan Prevented Ocean Plastic Southeast Asia.
Di mana, merupakan salah satu bentuk langkah nyata dari AQUA dalam mewujudkan komitmen berkelanjutkan dan menciptakan dampak positif bagi lingkungan melalui program BijakBerplastik.
“Kami sebagai produsen air minum dalam kemasan yang terkenal di Indoesia, kita ingin jadi solusi untuk permasalahan sampah plastik, khususnya sampah kemasan,” kata Karyanto.
Terlebih, masalah plastik ini adalah masalah yang kompleks dan membutuhkan solusi yang harus dilakukan bersama-sama atau kolaborasi.
Kolaborasi ini diharapkan dapat mendukung upaya pemerintan Indonesia dalam mengatasi permasalahan sampah melalui pengembangan infrastruktur ekonomi sirkular di luar Pulau Jawa. “Dengan demikian, perusahaan dapat meningkatkan kontribusinya dalam peta jalan pengurangan sampah,” imbuhnya.
Dia menerangkan selain sebagai wujud komitmen perusahaan dalam menjalankan regulasi tanggunng jawab produsen yang ditambahkan (Extended Producer Responsibility atau EPR). Kolaborasi kali ini juga sejalan dengan strategi keberlanjutan perusahaan yang tertuang dalam Danone Impact Journey.
Karyanto Wibowo, menerangkan Danone memulai program penanggulangan sampah plastik sejak 1993. Inisiatif program itu diberi nama Aqua Peduli. Dimana hasil pengumpulan sampah yang bernilai ekonomis, di ekspor keluar negeri untuk didaur ulang. “Saat ini prosesnya sudah berkembang menjadi ekonomi sekuler. Bahkan sekitar 10 tahun lalu,” tambahnya.
Revolusi sudah terjadi, kemasan botol Aqua beberapa bahannya kini diproduksi dengan bahan daur ulang. Ekosistem itu yang terus dibangun berkolaborasi dengan aggregator, bank sampah dan semua pihak terkait. “Bahkan pendauran tak hanya mengacu pada bramd Aqua tetapi juga brand botol plastik lainnya,” tambahnya lagi.
Kaltim boleh berbangga karena fasilitas ini termasuk yang paling modern se-Indonesia. “Kaltim sebagai IKN dan terbukanya investor dibidang ini dan pengembangannya yang sangat terbuka luas, menjadi alasan kuat dibangunnya aggregation centre ini,” tutupnya.
Dukungan juga diberikan oleh Plh Sekretariat Daerah (Setda) Kota Samarinda Marnabas Patiroy mewakili Pamkot Samarinda. Ia berujar, fasilitas ini menjadi kabar baik ditengah serbuan sampah hingga 600 ton perhari di kota Samarinda saja. Dengan komposisi sampah plastik hingga 80 persen.
Edukasi masyarakat menjadi sangat penting. Kolaborasi mutlak diperlukan agar sampah plastik tak harus berada di TPA. “Apalagi Samarinda tengah berbenah menjadi kota utama jasa dan wisata. Penangan sampah sudah pasti menjadi fokus utama,” katanya.
Selain itu, poin pentingnya sebagian besar karyawan yang ada di sana merupakan warga asli sekitar yang dipekerjakan. (Adv)
Editor: Aspian Nur