Penulis: Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA — Warna air Sungai Karang Mumus (SKM), Kota Samarinda di mendadak menjadi hijau sehingga menarik perhatian publik dalam beberapa waktu terakhir.
Penulis: Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA — Warna air Sungai Karang Mumus (SKM), Kota Samarinda di mendadak menjadi hijau sehingga menarik perhatian publik dalam beberapa waktu terakhir.
Kondisi tersebut terpantau di kawasan Jalan Tarmidi, Jalan S. Parman, Jalan Gelatik, hingga sekitar Pasar Segiri. Sementara itu, kondisi air yang relatif mendekati normal tampak di kawasan Jalan Tarmidi dengan dominasi warna cokelat, meski tetap menyisakan semburat hijau.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup (P2KLH) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda, Tri Ayu Wulandari menyatakan perubahan warna ini belum dapat dipastikan murni dipicu oleh faktor alam atau aktivitas manusia.
Musim kemarau saat ini disebutnya turut memengaruhi tampilan visual air SKM. Fluktuasi debit dan ketinggian air akibat siklus pasang surut membuat bagian dasar sungai lebih terekspos.
Ketika air surut dan intensitas cahaya matahari menembus hingga ke dasar, organisme atau lumut di dalam air tampak lebih jelas sehingga memunculkan rona kehijauan.
“Ini yang harus kami telusuri dengan melakukan pengecekan langsung serta mungkin salah satunya nanti melakukan pengambilan contoh uji,” ungkapnya, Rabu (28/10/2026).
Perbedaan visual tersebut tampak bervariasi di setiap kawasan. Dinamika itu dipengaruhi oleh karakteristik SKM yang bermuara langsung ke Sungai Mahakam, sehingga pergerakan arus bolak-balik turut mengatur persebaran partikel di dalam air.
Meski menduga fenomena ini berkaitan dengan pertumbuhan alga serta kondisi pasang surut, DLH Samarinda tidak menutup kemungkinan adanya kontribusi dari aktivitas usaha atau pencemaran di sekitar aliran sungai.
Pemeriksaan mendalam menjadi penting mengingat sebagian masyarakat masih berpotensi memanfaatkan air sungai untuk keperluan sehari-hari, termasuk mandi, cuci, dan kakus (MCK).
Langkah tersebut diperlukan untuk memastikan apakah warna hijau itu murni fenomena alam akibat ledakan populasi alga atau justru dipicu oleh kontribusi limbah aktivitas usaha di sekitar bantaran sungai.
Sebab, penilaian keamanan air tidak cukup dilakukan secara kasatmata. DLH Samarinda saat ini tengah mempersiapkan peninjauan langsung serta pengambilan sampel uji laboratorium guna memastikan kualitas air secara komprehensif.
Masyarakat diimbau agar tetap waspada dan menunggu hasil uji laboratorium resmi sebelum menggunakan air sungai selama fase air berwarna hijau pekat berlangsung. Setidaknya, diperlukan waktu 14 hari kerja hingga hasil penelitian didapatkan.
“Kita harus lakukan pengujian lebih intensif terhadap kualitas airnya,” tandasnya.
Editor: Erwin
Kondisi tersebut terpantau di kawasan Jalan Tarmidi, Jalan S. Parman, Jalan Gelatik, hingga sekitar Pasar Segiri. Sementara itu, kondisi air yang relatif mendekati normal tampak di kawasan Jalan Tarmidi dengan dominasi warna cokelat, meski tetap menyisakan semburat hijau.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup (P2KLH) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda, Tri Ayu Wulandari menyatakan perubahan warna ini belum dapat dipastikan murni dipicu oleh faktor alam atau aktivitas manusia.
Musim kemarau saat ini disebutnya turut memengaruhi tampilan visual air SKM. Fluktuasi debit dan ketinggian air akibat siklus pasang surut membuat bagian dasar sungai lebih terekspos.
Ketika air surut dan intensitas cahaya matahari menembus hingga ke dasar, organisme atau lumut di dalam air tampak lebih jelas sehingga memunculkan rona kehijauan.

“Ini yang harus kami telusuri dengan melakukan pengecekan langsung serta mungkin salah satunya nanti melakukan pengambilan contoh uji,” ungkapnya, Rabu (28/10/2026).
Perbedaan visual tersebut tampak bervariasi di setiap kawasan. Dinamika itu dipengaruhi oleh karakteristik SKM yang bermuara langsung ke Sungai Mahakam, sehingga pergerakan arus bolak-balik turut mengatur persebaran partikel di dalam air.
Meski menduga fenomena ini berkaitan dengan pertumbuhan alga serta kondisi pasang surut, DLH Samarinda tidak menutup kemungkinan adanya kontribusi dari aktivitas usaha atau pencemaran di sekitar aliran sungai.
Pemeriksaan mendalam menjadi penting mengingat sebagian masyarakat masih berpotensi memanfaatkan air sungai untuk keperluan sehari-hari, termasuk mandi, cuci, dan kakus (MCK).

Langkah tersebut diperlukan untuk memastikan apakah warna hijau itu murni fenomena alam akibat ledakan populasi alga atau justru dipicu oleh kontribusi limbah aktivitas usaha di sekitar bantaran sungai.
Sebab, penilaian keamanan air tidak cukup dilakukan secara kasatmata. DLH Samarinda saat ini tengah mempersiapkan peninjauan langsung serta pengambilan sampel uji laboratorium guna memastikan kualitas air secara komprehensif.
Masyarakat diimbau agar tetap waspada dan menunggu hasil uji laboratorium resmi sebelum menggunakan air sungai selama fase air berwarna hijau pekat berlangsung. Setidaknya, diperlukan waktu 14 hari kerja hingga hasil penelitian didapatkan.
“Kita harus lakukan pengujian lebih intensif terhadap kualitas airnya,” tandasnya.

Editor: Erwin










Pusat gempa berada di darat 10 km Utara Tanggamus
28 Okt 2026, 18:59:15 WIB • Kedalaman 4 km
Gempa ini dirasakan untuk diteruskan pada masyarakat
Sumber: BMKG
