Penulis: Adnan Abdul
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA – Seekor landak ditemukan mati di tengah hamparan lahan yang hangus terbakar di kawasan Perumahan Korpri Pelita 8, Kelurahan Sambutan, Kecamatan Sambutan pada Senin (26/10/2026).
Penulis: Adnan Abdul
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA – Seekor landak ditemukan mati di tengah hamparan lahan yang hangus terbakar di kawasan Perumahan Korpri Pelita 8, Kelurahan Sambutan, Kecamatan Sambutan pada Senin (26/10/2026).
Satwa liar itu menjadi salah satu korban yang ditemukan saat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda kawasan tersebut dengan luas terdampak diperkirakan mencapai 20 hektare.
Di tengah kobaran api yang meluas, kehidupan satwa liar ikut terancam. Selain landak yang ditemukan mati, petugas juga menjumpai ular, trenggiling, dan burung di area kebakaran. Nasib satwa-satwa tersebut menjadi perhatian di tengah upaya petugas gabungan dan relawan memadamkan api.
Koordinator Tim Reaksi Cepat (TRC) Satgas Karhutla BPBD Kota Samarinda Nanang Arifin mengatakan, kebakaran terjadi di wilayah RT 6 yang berbatasan dengan RT 8. Pihaknya menerima laporan kejadian sekitar pukul 14.37 Wita dan langsung bergerak melakukan penanganan.
“Angin cukup kencang sehingga membuat penyebaran api cukup luas,” ujar Nanang.
Temuan landak mati memperlihatkan dampak kebakaran yang tidak hanya menghanguskan vegetasi, tetapi juga mengancam satwa yang hidup di kawasan tersebut. Meski demikian, penyebab pasti kematian landak itu belum diketahui. Petugas juga belum dapat memastikan jumlah keseluruhan satwa yang terdampak kebakaran.
“Yang kita ketahui, kita temukan ada empat hewan yang berbeda, termasuk ular, landak, trenggiling, burung,” jelasnya.
Luasnya area yang terbakar menjadi tantangan untuk mengetahui kondisi satwa liar secara menyeluruh. Kebakaran yang menjalar cepat berpotensi membuat satwa kesulitan menghindari api dan kehilangan tempat berlindung. Namun, kondisi tersebut belum dapat dipastikan untuk setiap hewan yang ditemukan di lokasi.
Upaya pemadaman juga terkendala angin kencang dan keterbatasan sumber air. Jarak sumber air yang cukup jauh membuat petugas harus mengatur distribusi air agar pemadaman dapat terus dilakukan.
“Angin sangat kencang di lokasi serta kami keterbatasan sumber air untuk melakukan pemadaman,” tegas Nanang.
Petugas kemudian menggunakan flexible tank sebagai tempat penampungan air sementara. Air disuplai dari tangki unit menuju penampungan, lalu digunakan secara bergantian untuk menyemprot titik-titik kebakaran.
“Kami estafet, jadi air disuplai dari tangki unit menuju ke flexible tank. Lalu, kami estafet untuk melakukan pemadaman lahan yang terbakar,” pungkasnya.
Editor: Erwin
Satwa liar itu menjadi salah satu korban yang ditemukan saat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda kawasan tersebut dengan luas terdampak diperkirakan mencapai 20 hektare.
Di tengah kobaran api yang meluas, kehidupan satwa liar ikut terancam. Selain landak yang ditemukan mati, petugas juga menjumpai ular, trenggiling, dan burung di area kebakaran. Nasib satwa-satwa tersebut menjadi perhatian di tengah upaya petugas gabungan dan relawan memadamkan api.
Koordinator Tim Reaksi Cepat (TRC) Satgas Karhutla BPBD Kota Samarinda Nanang Arifin mengatakan, kebakaran terjadi di wilayah RT 6 yang berbatasan dengan RT 8. Pihaknya menerima laporan kejadian sekitar pukul 14.37 Wita dan langsung bergerak melakukan penanganan.
“Angin cukup kencang sehingga membuat penyebaran api cukup luas,” ujar Nanang.

Temuan landak mati memperlihatkan dampak kebakaran yang tidak hanya menghanguskan vegetasi, tetapi juga mengancam satwa yang hidup di kawasan tersebut. Meski demikian, penyebab pasti kematian landak itu belum diketahui. Petugas juga belum dapat memastikan jumlah keseluruhan satwa yang terdampak kebakaran.
“Yang kita ketahui, kita temukan ada empat hewan yang berbeda, termasuk ular, landak, trenggiling, burung,” jelasnya.
Luasnya area yang terbakar menjadi tantangan untuk mengetahui kondisi satwa liar secara menyeluruh. Kebakaran yang menjalar cepat berpotensi membuat satwa kesulitan menghindari api dan kehilangan tempat berlindung. Namun, kondisi tersebut belum dapat dipastikan untuk setiap hewan yang ditemukan di lokasi.
Upaya pemadaman juga terkendala angin kencang dan keterbatasan sumber air. Jarak sumber air yang cukup jauh membuat petugas harus mengatur distribusi air agar pemadaman dapat terus dilakukan.

“Angin sangat kencang di lokasi serta kami keterbatasan sumber air untuk melakukan pemadaman,” tegas Nanang.
Petugas kemudian menggunakan flexible tank sebagai tempat penampungan air sementara. Air disuplai dari tangki unit menuju penampungan, lalu digunakan secara bergantian untuk menyemprot titik-titik kebakaran.
“Kami estafet, jadi air disuplai dari tangki unit menuju ke flexible tank. Lalu, kami estafet untuk melakukan pemadaman lahan yang terbakar,” pungkasnya.
Editor: Erwin










Pusat gempa berada di laut 30 km timur laut Mbay, Nagekeo
26 Okt 2026, 11:53:42 WIB • Kedalaman 13 km
Gempa ini dirasakan untuk diteruskan pada masyarakat
Sumber: BMKG