Senin, 03/08/2026
Senin, 03/08/2026
Kawasan perbukitan bersemak belukar dan bervegetasi lebat yang rawan terjadi karhutla saat musim kemarau, terutama akibat aktivitas pembakaran terbuka atau kelalaian manusia. (Foto: Ayu/Korankaltim.com)
Senin, 03/08/2026

Kawasan perbukitan bersemak belukar dan bervegetasi lebat yang rawan terjadi karhutla saat musim kemarau, terutama akibat aktivitas pembakaran terbuka atau kelalaian manusia. (Foto: Ayu/Korankaltim.com)
Penulis: Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Kelalaian kecil seperti membuang puntung rokok sembarangan maupun membakar sampah di lahan terbuka saat musim kemarau masih menjadi ancaman serius di Kota Tepian.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda mengimbau masyarakat untuk menghentikan kebiasaan tersebut karena berpotensi besar memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Sepanjang Juli 2026, tercatat sebanyak 11 kejadian karhutla melanda Samarinda. Sementara pada Juni sebelumnya tidak ditemukan satu pun kasus kebakaran lahan.
Kepala BPBD Samarinda Suwarso menyampaikan, kondisi tersebut dipengaruhi oleh musim kemarau yang mulai mengeringkan vegetasi.
“Memang Samarinda masih diuntungkan karena masih turun hujan meskipun sedang musim kemarau. Tetapi selama Juli sudah ada 11 kejadian,” kata Suwarso.
Peristiwa kebakaran tersebar di sejumlah wilayah, di antaranya Kecamatan Samarinda Ulu, Palaran, hingga kawasan Samarinda Utara. Sebagian besar titik api berhasil dipadamkan sebelum meluas berkat respons cepat relawan dan petugas setempat.
BPBD sejak awal telah memetakan kawasan berisiko tinggi, terutama area lahan gambut dan semak belukar.
Upaya mitigasi juga diperkuat melalui koordinasi rutin bersama TNI, Polri, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat), Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), hingga para relawan kebencanaan.
“Ketika ada kejadian, tinggal komunikasi. Semua sudah bergerak sesuai tugasnya,” jelasnya.
Keberadaan Kelurahan Tangguh Bencana dan Taruna Siaga Bencana turut membantu penanganan dini sebelum api membesar.
Apabila kondisi di lapangan tidak dapat dikendalikan, BPBD langsung mengerahkan bantuan tambahan bersama instansi terkait.
Insiden terluas terjadi di kawasan Bantuas dengan area terdampak mencapai dua hektare. Lokasi yang jauh dari permukiman, medan perbukitan, serta keterbatasan sumber air membuat proses pemadaman berlangsung sekitar tiga jam hingga api benar-benar padam.
“Yang lain skalanya relatif kecil, sekitar 200 sampai 500 meter persegi,” tambahnya.
Berdasarkan hasil evaluasi sementara, mayoritas kebakaran dipicu oleh aktivitas manusia. Beberapa kasus diduga berasal dari pembakaran sampah yang merembet ke rumput kering, sementara kasus lain dipicu oleh puntung rokok yang dibuang sembarangan.
“Di Bukit Pinang misalnya, diduga ada orang memancing lalu membuang puntung rokok ke semak kering. Ada juga yang membakar sampah kemudian apinya merambat,” terangnya.
Oleh sebab itu, BPBD meminta masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar maupun membersihkan sampah melalui pembakaran terbuka selama cuaca panas berlangsung.
Sampah rumah tangga diimbau untuk dipilah dan dibuang ke tempat pembuangan sementara (TPS) yang telah tersedia.
Selain itu, jajaran pengurus RT, lurah, hingga camat diminta aktif mengingatkan warga agar tidak melakukan tindakan yang berpotensi memicu api.
“Kalau cuaca panas disertai angin, penyebaran api pasti lebih cepat. Karena itu masyarakat harus benar-benar menghindari pembakaran terbuka,” pungkasnya.
Editor: Erwin
Senin, 03/08/2026
Kawasan perbukitan bersemak belukar dan bervegetasi lebat yang rawan terjadi karhutla saat musim kemarau, terutama akibat aktivitas pembakaran terbuka atau kelalaian manusia. (Foto: Ayu/Korankaltim.com)
TERPOPULER