Senin, 27/07/2026

Permukiman Paling Rawan, 133 Kebakaran Terjadi di Samarinda Sepanjang Januari-Juli 2026

Senin, 27/07/2026

Kebakaran yang melanda Jalan Ir Sutami Setidaknya menghanguskan lima bangunan di kawasan tersebut beberapa waktu lalu. (Foto: Adnan Abdul/Korankaltim.com)

Share
Join Grup Telegram Koran Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/+SsC4jer3I5syZWU1 atau klik tombol dibawah ini.

Grup Telegram Koran Kaltim

kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dahulu di ponsel.

Berita Terkait

Permukiman Paling Rawan, 133 Kebakaran Terjadi di Samarinda Sepanjang Januari-Juli 2026

Senin, 27/07/2026

logo

Kebakaran yang melanda Jalan Ir Sutami Setidaknya menghanguskan lima bangunan di kawasan tersebut beberapa waktu lalu. (Foto: Adnan Abdul/Korankaltim.com)

Penulis: Adnan Abdul

KORANKALTIM.COM, SAMARINDA – Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkar) Kota Samarinda mencatat sedikitnya 133 kasus kebakaran sepanjang Januari hingga akhir Juli 2026. 

Kawasan permukiman masih menjadi lokasi yang paling sering terdampak, sementara gangguan instalasi atau korsleting listrik mendominasi penyebabnya.

Kepala Disdamkar Kota Samarinda, Hendra AH mengatakan, tingginya angka kebakaran menunjukkan perlunya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap potensi bahaya di lingkungan tempat tinggal.

“Kasus paling banyak masih terjadi di kawasan permukiman. Penyebabnya didominasi masalah kelistrikan, mulai dari instalasi yang sudah tua hingga penggunaan colokan listrik secara berlebihan,” ujar Hendra, Senin (27/7/2026).

Berdasarkan data Disdamkar, dari total 133 kejadian, sebanyak 46 kasus terjadi di kawasan permukiman. Selain itu, kebakaran juga melanda sektor perdagangan sebanyak 13 kejadian, lahan atau kebun 12 kejadian, kendaraan 5 kejadian, serta gudang dan kawasan industri 3 kejadian.

Sementara itu, fasilitas umum tercatat relatif aman. Selama tujuh bulan terakhir, masing-masing hanya terdapat satu kejadian kebakaran yang menimpa bangunan pendidikan, perkantoran, dan fasilitas umum lainnya.

“Gangguan instalasi listrik masih menjadi penyebab terbanyak kebakaran dengan 24 kejadian, disusul kebocoran tabung maupun instalasi gas LPG sebanyak 15 kasus. Sebagian besar insiden ini sebenarnya bisa dicegah apabila masyarakat rutin memeriksa kondisi instalasi listrik dan menggunakan peralatan elektronik sesuai kapasitas,” tambah Hendra.

Data bulanan juga memperlihatkan fluktuasi jumlah kejadian. April menjadi periode dengan angka kebakaran tertinggi sepanjang tahun ini, yakni 29 kejadian. Selanjutnya disusul Mei sebanyak 25 kejadian, Januari 20 kejadian, Juni 16 kejadian, sedangkan hingga 26 Juli telah tercatat 14 kejadian.

Hendra menegaskan upaya pencegahan jauh lebih penting dibanding penanganan saat kebakaran sudah terjadi. Karena itu, pihaknya terus mengintensifkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai langkah-langkah sederhana untuk meminimalkan risiko kebakaran di rumah.

“Kami mengimbau masyarakat agar rutin mengecek kondisi instalasi listrik, tidak meninggalkan kompor dalam keadaan menyala, serta segera menghubungi petugas jika melihat tanda-tanda kebakaran. Pencegahan adalah langkah terbaik untuk menghindari kerugian yang lebih besar,” tegasnya.

Ia berharap masyarakat tidak mengabaikan kondisi instalasi listrik yang sudah berusia tua maupun kebiasaan menggunakan sambungan listrik secara berlebihan. 

“Kewaspadaan sejak dini merupakan kunci utama untuk menekan angka kebakaran. Dengan meningkatkan kepedulian terhadap potensi bahaya di lingkungan sekitar, kita tidak hanya melindungi harta benda, tetapi juga keselamatan jiwa,” pungkasnya.

Editor: Erwin

Permukiman Paling Rawan, 133 Kebakaran Terjadi di Samarinda Sepanjang Januari-Juli 2026

Senin, 27/07/2026

Kebakaran yang melanda Jalan Ir Sutami Setidaknya menghanguskan lima bangunan di kawasan tersebut beberapa waktu lalu. (Foto: Adnan Abdul/Korankaltim.com)

Share

Berita Terkait