Tak ingin meninggalkan kawasan yang sudah puluhan tahun tempat mereka tinggal di Kota Tepian, sampai hari ini mereka masih bertahan di posko pengungsian kendati tempat penampungan mereka nilai belum sepenuhnya layak, terutama karena tenda yang sesak dan belum tersambungnya listrik.
Sumar, seorang warga terdampak mengungkapkan kalau lokasi pengungsian yang mereka tempati saat ini menampung banyak keluarga sehingga ruang menjadi terbatas dan sirkulasi udara kurang baik. Selain itu, belum stabilnya penerangan membuat aktivitas warga di malam hari terganggu.
“Kalau di pengungsian ini orang banyak, jadi agak sesak. Lampu juga belum stabil, jadi warga tidur berhimpitan,” jelas Sumar, warga RT 12 Gang Selamat kepada Korankaltim.com di lokasi kebakaran Sabtu (04/10/2025)
Namun Sumar tetap bersyukur atas bantuan yang sudah diterima dari berbagai pihak. Relawan dan instansi terkait sudah menyalurkan logistik, namun tetap berharap perhatian lebih dari pemerintah terhadap kondisi pengungsian. “Alhamdulillah, bantuan dari semua pihak sudah datang. Tapi ya namanya tempat sementara, pasti ada kurangnya. Kami cuma minta perhatian pemerintah, terutama soal tempat tinggal. Kalau bisa hunian segera disiapkan supaya kami tidak terlantar,” paparnya.
Sumar juga menyampaikan rasa rindunya terhadap suasana wilayah sebelum kebakaran karena sebelum si jago merah mengamuk, warga kerap berkumpul dalam kegiatan keagamaan dan silaturahmi di musala Gang Selamat.
“Yang paling saya rindukan itu suasana waktu Idulfitri dan kegiatan majelis tiap malam Jumat. Semoga kami bisa kembali seperti dulu,” harapnya.
Sementara Lurah Pelabuhan Hari Santoso Abidin menjelaskan, sejak awal kejadian, pihak kelurahan bersama instansi terkait langsung bergerak cepat mendirikan tenda darurat dan dapur umum untuk warga terdampak. Dapur umum tersebut dibantu oleh Dinas Sosial Kota Samarinda dan telah beroperasi sejak hari pertama pasca kebakaran.
“Kami bekerja sama dengan pemerintah kota dan Dinas Sosial serta BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) untuk mendirikan tenda darurat serta dapur umum bagi warga terdampak. Dapur umum sudah berjalan sejak hari kamis,” kata Hari.
Sebagian besar warga yang rumahnya terbakar merupakan penyewa rumah atau kos, bukan pemilik rumah pribadi. Karena itu, mereka belum memiliki tempat untuk kembali dan masih bergantung pada fasilitas pengungsian yang disediakan pemerintah.
Pihak kelurahan juga telah berkoordinasi dengan BPBD dan Dinas Sosial untuk memperpanjang masa penggunaan tenda darurat. Hal ini dilakukan mengingat warga belum bisa meninggalkan pengungsian dalam waktu dekat. “Kami sedang mengupayakan agar masa peminjaman tenda bisa diperpanjang. Sambil menunggu arahan dari pemerintah kota dan perkembangan bantuan yang terus berdatangan,” jelasnya.
Langkah lanjutan terkait relokasi atau penyediaan hunian sementara masih menunggu hasil rapat koordinasi dengan pemerintah Kota Samarinda dan instansi terkait lainnya.
Kini, para korban kebakaran Gang Selamat hanya bisa berharap agar proses penanganan dari pemerintah dapat berjalan cepat. Mereka berharap segera mendapatkan hunian sementara agar bisa beristirahat dengan layak setelah kehilangan rumah dan harta benda akibat musibah tersebut.
Editor: Aspian Nur