Salah satunya disampaikan Abdul Yaman, pedagang keliling yang sehari-hari berjualan di kawasan tersebut. Menurutnya, sejak aturan diberlakukan, penghasilannya semakin menurun.
“Ya orang miskin ditambah dimiskinkan lagi. Kebijakan ini bikin saya makin susah,” ujar Abdul Yaman, Jumat (25/9/2025).
Abdul mengaku kini semakin kesulitan mencari nafkah. Selain berdagang keliling, ia sesekali mendapat izin dari seorang pemilik toko untuk menjaga parkir kendaraan. Namun, semenjak sistem satu arah diberlakukan, jumlah kendaraan yang parkir menurun drastis.
“Kalau orang mau parkir saja sekarang takut. Saya juga takut, takut ketabrak gara-gara jalur satu arah. Sudah miskin, ketabrak lagi,” keluhnya.
Lebih jauh, ia juga menyinggung janji pemerintah terkait bantuan ekonomi yang hingga kini belum terealisasi.
“Katanya ada pinjaman lunak buat pedagang kecil, tapi sampai sekarang tidak ada. Harusnya pemerintah memikirkan terus nasib rakyat kecil,” katanya.
Abdul berharap kebijakan lalu lintas ini bisa ditinjau ulang agar tidak semakin menyulitkan masyarakat kecil.
“Harapan saya, semoga kembali seperti semula biar lancar. Tolong beri kebijakan yang lebih bijaksana, karena yang kena dampaknya ya orang kecil seperti saya,” pungkasnya.
Sementara itu penerapan sistem satu arah di Jalan Abul Hasan juga berdampak pada para pengemudi ojek online (ojol). Mereka mengaku pendapatan menurun lantaran harus menempuh jarak lebih jauh untuk memutar arah.
Haris mengatakan, aturan tersebut membuat biaya operasional ikut bertambah. “Sebagai pengemudi, kami jadi harus mutar jauh. Pendapatan menurun, bensin lebih banyak dikeluarkan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kebijakan satu arah sebaiknya ditinjau kembali. Haris berharap, jalur tersebut bisa dikembalikan seperti semula agar lebih memudahkan mobilitas pengendara.
“Kalau bisa dikembalikan ke dua arah, biar tidak muter jauh lagi,” harapnya.
Editor: Erwin