Tebing yang tidak kuat menahan gerusan air hujan ambrol hingga menimpa sebuah bangsal di RT 03 yang dihuni enam kepala keluarga.
Kejadian itu berlangsung cepat. Tanah dan bebatuan besar runtuh dari lereng tepat di belakang bangunan. Warga yang berada di dalam bangsal sontak panik, namun beruntung seluruh penghuni berhasil menyelamatkan diri.
Tidak ada korban jiwa, meskipun kerugian material tidak dapat dihindari. Satu unit sepeda motor matik milik seorang mahasiswi rusak berat setelah tertimpa bongkahan batu berukuran besar.
Kendaraan tersebut ringsek pada bagian bodi dan mesin sehingga tidak lagi dapat digunakan.
“Awalnya terdengar suara gemuruh, lalu batu dan tanah langsung menghantam ke arah bangsal. Syukurlah semua penghuni bisa keluar tepat waktu, tidak ada anak-anak yang sedang main di teras,” tutur Andre salah satu saksi mata.
Warga setempat kemudian bergegas mengevakuasi motor-motor lain agar tak turut terdampak. Mereka juga bergotong royong memindahkan material yang menghalangi akses keluar masuk bangsal.
Tak lama berselang, Tim Reaksi Cepat BPBD Samarinda tiba di lokasi. Garis polisi dipasang untuk mengamankan area dan mencegah masyarakat mendekat ke titik longsor.
“Di lokasi ada material batu besar yang jatuh dari atas tebing. Kami langsung pasang police line untuk antisipasi longsor susulan. Cuaca juga masih sering hujan, jadi risikonya cukup tinggi,” kata Reza, petugas BPBD Samarinda.
Ia menjelaskan, mayoritas material longsoran berupa batu besar yang berpotensi membahayakan. Pihaknya juga melakukan pendataan kerusakan, memberikan imbauan, serta menyiagakan petugas untuk berjaga.
Hingga malam hari, enam kepala keluarga yang terdampak memilih mengungsi ke rumah kerabat. Aparat kelurahan bersama relawan kebencanaan juga masih siaga di sekitar tebing guna memantau kondisi.
Sementara itu, Dinda (20), mahasiswi Ilmu Pemerintahan 2022 yang motornya hancur tertimpa batu, mengaku masih syok dengan musibah ini.
“Sekitar jam 15.45 motor saya tertimpa batu besar. Itu kendaraan utama saya untuk kuliah dan bekerja sebagai guru privat. Saya benar-benar kaget, sempat menangis juga,” ungkapnya.
Dinda mengatakan, longsor di lokasi itu sudah kerap terjadi. “Sejak saya tinggal di sini, sudah lebih dari lima kali ada longsor kecil. Tapi baru kali ini yang terparah, sampai menimpa motor dan merusak teras rumah,” jelasnya.
Ia pun berharap pemerintah Kota Samarinda lebih serius memberi perhatian terhadap keselamatan warga yang tinggal di kawasan rawan longsor.
“Kami butuh bantuan, terutama untuk perbaikan kerusakan. Keamanan lingkungan juga harus jadi perhatian, supaya kejadian seperti ini tidak terus terulang,” pungkasnya.
Editor: Erwin