Dalam operasi tersebut, 22 mahasiswa berhasil diamankan untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Bom molotov itu sendiri diduga hendak digunakan saat aksi unjuk rasa yang digelar di Samarinda oleh Aliansi Mahakam hari ini.
Kapolresta Samarinda Kombes Pol Hendri Umar dalam rilis kepada media menjelaskan, penggerebekan dilakukan setelah mereka menerima laporan adanya aktivitas mencurigakan di sekitar gedung FKIP Unmul yang terletak di Jalan Banggeris, Kelurahan Teluk Lerong Ulu, Kecamatan Sungai Kunjang, Kota Samarinda.
Tim gabungan kemudian bergerak cepat dan langsung mengamankan sejumlah mahasiswa serta barang bukti yang diduga digunakan untuk merakit bom molotov.
“Awalnya kami mendapat informasi ada kegiatan mencurigakan di area kampus. Saat tim mendatangi lokasi, ditemukan bahan-bahan yang diduga digunakan untuk membuat bom molotov,” jelas Hendri.
Dari total 22 mahasiswa yang diamankan, 18 di antaranya merupakan mahasiswa Program Studi Sejarah FKIP Unmul dan dinyatakan tidak terlibat dalam perakitan bom dan akan dipulangkan ke pihak kampus dan keluarga setelah pemeriksaan selesai.
Sementara itu, empat mahasiswa lainnya masih menjalani pemeriksaan intensif karena diduga memiliki peran langsung dalam proses perakitan yaitu MZ alias F, MH alias R, MAG alias A dan AF.
“Ada yang berperan mengantarkan bahan baku, ada yang meracik, dan ada pula yang menyimpan hasilnya. Peran masing-masing sedang kami dalami,” tegas Hendri.
Berdasarkan informasi, 18 mahasiswa lainnya hanya berada di sekitar sekretariat FKIP Unmul saat penggerebekan berlangsung sehingga status mereka masih sebatas saksi. Jika hasil pemeriksaan tidak menemukan keterlibatan, mereka akan segera dipulangkan.
Hingga kini, polisi telah mengamankan sejumlah barang bukti, termasuk botol kaca, bahan bakar, dan kain yang diduga digunakan sebagai sumbu bom molotov. Aparat juga masih menyelidiki kemungkinan adanya jaringan yang lebih luas terkait perakitan bahan peledak ini.
Editor: Aspian Nur