Wakil Ketua Komisi III DPRD Kaltim Akhmed Reza Fachlevi menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor dalam menjaga kelestarian lingkungan sebagai langkah antisipatif terhadap bencana banjir.
Kondisi ini seharusnya menjadi momentum untuk melakukan refleksi bersama, bukan saling menyalahkan.
Sejumlah faktor pemicu banjir jadi sorotan, seperti menyusutnya kawasan resapan air, kondisi geografis wilayah, hingga sistem drainase dan aliran sungai yang belum optimal.
“Penanganan banjir tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Partisipasi aktif masyarakat, mulai dari menjaga kebersihan lingkungan hingga penghijauan, sangat diperlukan,” kata Reza Sabtu (31/5/2025).
Tindakan sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan dan ikut serta dalam kegiatan penanaman pohon dapat memberikan kontribusi nyata dalam mencegah banjir ke depannya.
Sementara itu, hujan deras yang mengguyur Samarinda empat hari lalu menyebabkan genangan air setinggi hingga satu meter di sejumlah titik.
Ditambah dengan data BMKG mencatat curah hujan berkisar antara 50 hingga 85 milimeter per jam hingga pagi hari.
Kepala BPBD Samarinda, Suwarso, juga sebelumnya sudah menjelaskan bahwa banjir diperparah oleh naiknya permukaan air Sungai Mahakam akibat pasang besar.
Kondisi ini turut menyebabkan meluapnya anak sungai seperti Karang Mumus dan Karang Asam, yang akhirnya merendam kawasan rendah seperti Palaran, Sambutan, dan Samarinda Ilir.
“Kombinasi antara curah hujan tinggi dan pasang sungai membuat aliran air tersendat, sehingga genangan masih terjadi di sejumlah titik,” jelas Suwarso.
Reza juga mengingatkan pentingnya duduk bersama antara pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya untuk mencari solusi jangka panjang.
Editor Aspian Nur