Dinas Perhubungan (Dishub) Samarinda menyebut, satu diantara penyebab utama munculnya jukir liar adalah kebiasaan masyarakat yang tidak tertib memarkir kendaraan.
Kepala Dishub Samarinda, Hotmarulitua Manalu, menjelaskan, meskipun pemkot telah menyediakan lahan parkir khusus di beberapa titik, banyak warga yang tetap memilih parkir di tempat yang lebih dekat, meski bukan area yang semestinya.
Kebiasaan ini lah yang membuka celah bagi oknum jukir liar untuk beroperasi dan memungut tarif parkir dari masyarakat. “Jukir liar itu ada karena masyarakat kurang disiplin. Kalau masyarakat tertib memarkir kendaraan sesuai aturan, keberadaan jukir liar bisa berkurang,” jelas Manalu kepada Korankaltim.com Selasa (25/3/2025).
Satu contoh terjadi di kawasan Teras Samarinda Jalan Gajah Mada. Meski lahan parkir khusus telah disediakan, sebagian warga enggan berjalan kaki dari lahan tersebut ke tujuan mereka.
Manalu juga membandingkan sistem transportasi di Indonesia dengan negara maju, seperti Jepang, di mana penggunaan kendaraan pribadi lebih terkendali karena tingginya pajak dan biaya parkir. Hal itu mendorong masyarakat Jepang untuk memanfaatkan angkutan umum.
Dirinya berharap kedepannya Samarinda dapat memiliki sistem transportasi umum yang layak, sehingga kebijakan seperti sistem ganjil genap dan larangan parkir di tepi jalan dapat diterapkan untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.
Pengurangan jumlah kendaraan pribadi akan memberikan banyak manfaat, mulai dari kelancaran lalu lintas, berkurangnya polusi udara, hingga menekan angka kecelakaan lalu lintas. “Kalau tidak dimulai sekarang, kapan lagi? Jika transportasi umum di Samarinda sudah tersedia dan memadai, kebijakan pendukung seperti ganjil genap dan larangan parkir akan mulai diberlakukan,” tutup Manalu.
Editor: Aspian Nur