Aksi ini dipicu oleh keluhan warga terkait kondisi TPS yang dianggap telah melebihi kapasitas dan mencemari lingkungan sekitar.
Salah satu warga, Nina, mengatakan bahwa TPS yang ada saat ini awalnya merupakan solusi sementara yang ditempatkan di lokasi beberapa tahun lalu, namun hingga kini belum juga dipindahkan.
“TPS awalnya di depan jalan masuk kompleks, tapi dipindah ke sini saat ada kunjungan Presiden ke Samarinda. Seharusnya itu hanya sementara, tetapi sampai sekarang masih tetap di sini,” ujarnya.
Warga lainnya, kata Sri, sejak TPS tersebut dijadikan permanen, sampah yang dibuang tidak hanya berasal dari warga sekitar, tetapi juga dari kawasan lain, bahkan mencakup sampah industri dan material bangunan.
“Dulu hanya bak sampah biasa, tapi sekarang jadi TPS permanen. Sampah dari kawasan Rapak Dalam hingga material pedagang semua dibuang ke sini. Bahkan, pernah terjadi kebakaran setahun lalu akibat sisa bara api dari sampah yang dibakar,” jelasnya.
Selain masalah volume sampah, warga juga mengeluhkan bau menyengat yang terbawa angin hingga ke area perumahan yang mengganggu aktivitas harian, seperti jogging.
“Kami rutin kerja bakti, tapi masalahnya terus berulang. Bau busuk dari TPS ini sangat mengganggu, terutama saat angin berhembus ke arah perumahan,” tambah Sri.
Meski petugas dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) rutin mengangkut sampah, warga menganggap langkah tersebut tidak cukup mengatasi masalah.
Bahkan, warga sempat mendokumentasikan sebuah mobil box ber plat luar Kaltim yang membuang sampah di lokasi tersebut, memicu kemarahan warga.
“Kemarin sampah sampai menutup jalan dan menghalangi akses. Kami harus komplain dulu baru ada tindakan dari pemerintah. Kalau kami diam, masalah ini akan terus dibiarkan,” kata seorang warga.
Dalam aksi tersebut, warga dari RT 33, 36, dan 37 memberikan ultimatum kepada Pemerintah Kota Samarinda agar segera memindahkan TPS dalam waktu satu minggu.
Jika tidak, warga mengancam akan menggelar aksi lanjutan dengan massa yang lebih besar di Balai Kota.
“Kami tidak akan diam lagi. Kalau dalam seminggu tidak ada tindakan nyata, kami akan kumpulkan lebih banyak warga untuk menyuarakan protes ini langsung ke Balai Kota,” tegas Sri.
Warga berharap Pemkot Samarinda segera menindaklanjuti masalah ini demi kenyamanan dan kesehatan lingkungan sekitar.
Editor: Erwin