Seiring dengan kepergian kepala daerah yang memimpin Benua Etam dua periode itu pada 2008-2013 dan 2013-2018, Ketua Umum Persekutuan Dayak Kalimantan Timur (PDKT) Syaharie Jaang pun memberikanm usulan agar nama almarhum pria yang akrab disapa AFI itu jadi nama Jalan Tol Balsam.
Usulan ini dilandasi oleh jasa besar AFI dalam menggagas dan memperjuangkan pembangunan jalan tol pertama di Kalimantan dengan Panjang 99,5 kilometer tersebut.
Meskipun menghadapi tantangan besar, termasuk kebutuhan anggaran yang sangat tinggi, nyatanya Awang Faroek tetap konsisten merealisasikan proyek ini. “Jalan Tol Balsam adalah warisan monumental yang lahir dari visi besar Pak Awang Faroek. Beliau tak hanya memiliki pandangan jauh ke depan, tetapi juga keberanian untuk melawan segala pertentangan, terutama masalah pendanaan,” ujar Jaang saat dikonfirmasi Korankaltim.com, Selasa (24/12/2024).
Proyek Tol Balsam ini sendiri dimulai pada awal 2011 di saat Awang Faroek Ishak menjabat sebagai Gubernur Kaltim dan membutuhkan waktu hampir delapan tahun untuk diselesaikan.
Jalan tol ini dioperasikan secara bertahap, dengan Seksi II, III, dan IV diresmikan pada Desember 2019, sementara Seksi I dan V baru diresmikan pada Agustus 2021.
Proyek ini memang sempat menghadapi berbagai hambatan, termasuk melintasi kawasan konservasi Taman Hutan Raya (Tahura) Soeharto. Namun melalui lobi intensif ke pemerintah pusat dan kegigihan Awang Faroek, tantangan tersebut berhasil diatasi.
Awalnya, ketidakpercayaan sempat muncul mengingat populasi Kaltim yang saat itu masih relatif kecil dibandingkan dengan Pulau Jawa. Tetapi, manfaat besar jalan tol ini terbukti setelah mulai beroperasi, terutama dalam memangkas waktu tempuh dan mendukung konektivitas ekonomi antara Balikpapan dan Samarinda.
“Dulu banyak yang meragukan manfaat jalan tol ini. Tapi sekarang semua bisa melihat dampak positifnya. Ketika melintasi jalan tol ini, saya selalu mengingat jasa Pak Awang Faroek,” ungkap mantan Wali Kota Samarinda 2 periode pada tahun 2010 hingga 2015 dan 2016 sampai tahun 2021 itu.
Karena itulah sebagai bentuk penghormatan Jaang menyarankan agar nama AFI diabadikan sebagai nama jalan tol ini. Hal ini dianggap sebagai cara terbaik untuk mengenang jasanya yang telah meninggalkan warisan strategis bagi Kaltim.
Jaang juga menyebutkan alasan penamaan ini diyakini akan menjadi pengingat bagi generasi mendatang akan sosok pemimpin yang gigih, visioner, dan berdedikasi.
Selain itu, jalan tol ini juga berperan penting dalam mendukung Kaltim sebagai IKN yang baru, dengan membuka peluang investasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Diharapkan usulan ini mendapat perhatian dari pemerintah daerah dan pihak terkait sebagai bentuk penghargaan atas perjuangan Awang Faroek Ishak untuk masa depan Kaltim.
Editor: Aspian Nur