Dalam unggahannya, dia menuliskan bahwa tujuannya parkir untuk menonton Pawai Ta’aruf yang pagi ini berlangsung di Jalan Gajah Mada, Sabtu (7/9/2024).
Dia mengaku tak keberatan saat dimintai sejumlah uang, meski nominalnya tidak wajar hanya untuk parkir. Namun, ketika diminta karcis parkir, juru parkir tersebut menolak, dengan alasan tidak ada.
Bahkan, menurut pengakuannya, jukir tersebut justru mengusirnya saat menyanyakan hal tersebut. Artinya, uang retribusi dimita saat memarkirkan kendaraan, buka saat keluar.
Menanggapi hal yang ramai itu, Dinas Perhubungan (Dishub) melakukan teguran keras pada pihak yang ternyata jukir liar, dan bukan binaan Dishub.
Koordinator Parkir Dishub Samarinda, Duri mengaku memang memperbolehkan Taman Samarendah untuk dijadikan tempat parkir, karena membludaknya masyarakat yang mau nonton pawai.
“Jadi tadi karena sangking membludaknya penonton sehingga parkir di Taman Samarendah diperbolehkan. Petugas kami hanya dari penganturan lalu lintas, agar tidak macet,” kata Duri pada media ini.
Kendati demikian, Duri menegaskan bahwa pihaknya tidak menarik retribusi sama sekali di titik tersebut. Karena pengawasan mereka hanya di museum yang memang menjadi lahan parkir resmi.
Namun, seiring berjalannya, saat lengah ke lalu lintas ternyata parkir tersebut dimanfaatkan oleh jukir liar, dengan menggetok harga yang cukup tinggi.
“Karena petugas kami terbagi-bagi, dan ini jukirnya sudah kita panggil di Museum Samarinda, dan selanjutnya itu dilarang, karena mereka menganggap hari ini kita libur. Makanya, dimanfaatkan oleh oknum masyarakat setempat,” tegasnya.
Dari banyaknya jukir liar, Duri menjelaskan mungkin hanya salah satunya saja dan tidak keseluruhan. Namun yang jelas, dia menegaskan pihaknya bakal menindak tegas dan mencari keseluruhan oknum itu.
Editor: Supiansyah