Terbaru, istri dari Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Kaltim, Irwansyah pun diduga turut menjadi korban intimidasi dari kepala sekolah, tempat anaknya mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar (SD).
Atas dugaan tersebut irwansyah pun meminta pendampingan kepada Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) Kaltim, yang memang sejak awal menangani kasus penjualan buku di sekolah.
Ketua TRC PPA Kaltim Rina Zainun mengatakan, pihaknya didatangi oleh Ketua KPID Kaltim bersama istrinya, menyampaikan sang istri mendapatkan intimidasi dari pihak sekolah, Senin (19/8/2024) lalu.
"Kejadiannya awal Agustus, saat itu istri dari Ketua KPID membuat status di media sosialnya, dengan caption 'masih saja terjadi penjualan buku', kemudian langsung dipanggil oleh pihak sekolah, awalnya tidak ada masalah, masih aman," ungkap Rina Selasa (20/8/2024) sore tadi saat ditemui di Mapolresta Samarinda.
"Tiga hari kemudian dipanggil kembali oleh pihak sekolah, terkait soal edaran Disdik dan statment walikota terkait dengan penjualan buku," sambungnya.
Pertemuan berlangsung Sabtu (17/8/2024) lalu, disitu pihak korban langsung membicarakan soal bagaimana solusi dan alternatif, terkait persoalan buku tersebut, kepada kepala sekolah, paguyuban, komite, guru dan bendahara saat itu, tetapi mereka menolak.
"Korban menanyakan bagaimana solusi serta alternatifnya, tetapi tawaran untuk itu ditolak dan oknum kepala sekolah malah justru melontarkan kata-kata tidak pantas, dengan mengatakan 'dasar suami-istri seranjang sama saja kelakuannya', kemudian oknum ini kembali mengatakan 'kamu tidak punya uangkah?', sambil menunjuk ke arah bendahara 'kasih dia uang, kalau tidak mampu ambil Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM)', setelah itu langsung mau diberikan uang, tetapi korban menolak," ungkapnya.
Rina menambahkan dari oknum kepala sekolah itupun memberitahukan jika untuk buku, akan diberikan secara gratis kepada ketua-ketua paguyuban.
"Saat itu dia (korban) mau merekam, tetapi ketahuan dan oknum kepala sekolah yang mengatakan 'kenapa merekam', korban bilang 'saya merekam supaya tidak menjelaskan kepada teman-teman yang saya wakili, tinggal mendengar penjelasan dari video ini, kalau tidak salah kenapa harus takut', dia bilang begitu," terangnya.
Pembicaraan itu pun masih terus berlanjut, tanpa direkam oleh korban, dimana oknum kepala sekolah menjelaskan bahwa penjualan buku dilakukan lantaran keterbatasan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
"Selain itu juga katanya kuota buku tidak mencukupi, sehingga berdasarkan kebijakan pribadi memberikan gratis kepada ketua-ketua paguyuban. Disitu korban tidak mau, karena yang diperjuangkan mereka yang tidak mampu, kenapa malah justru ketua paguyuban mendapatkan secara gratis, dia menentang kebijakan itu, makanya oknum ini melontarkan kata-kata yang tidak pantas, serta ancaman, seharusnya sebagai tenaga pendidik kata-kata itu tidak disampaikan, apalagi kepala sekolah," beber Rina.
Terkait dengan dugaan intimidasi oleh pihak sekolah, terhadap orang tua murid diakui Rina pun bukan yang pertama kali, tetapi ada dua orangtua murid, termasuk istri dari Ketua KPID Kaltim ini.
"Sebelumnya juga ada dan saat ini sedang berproses di kepolisian, untuk perkara baru istri dari Ketua KPID memang awalnya kami mau laporan, tetapi ditunda, karena masih akan dilakukan mediasi terlebih dahulu besok," ujar Rina.
Hari Minggu (18/8/2024) lalu orangtua murid yang sebelumnya juga diduga mendapatkan intimidasi dari pihak sekolah, kedatangan tim investigasi wali kota untuk mendengar langsung dari korban, terkait hal tersebut.
"Tim investigasi ini turun langsung, bukan hanya melihat dimedia dan hasilnya akan dilporkan kepada bapak walikota, artinya proses hukum tetap berjalan, sedangkan terkait ASN itu menjadi tanggung jawab dari bapak walikota, karena ibu ini (korban) saat itu langsung menyampaikan kepada walikota soal penjualan buka tersebut, makanya beliau meminta timnya melakukan investigasi," tutup Rina.
Editor Aspian Nur