Kepala Dinsos PM Samarinda, Isfihani melaporkan, setidaknya pada awal pendataan ada sekitar 1.400 kepala keluarga (KK) yang tergolong miskin ekstreme. Namun ternyata, saat pendataan ada warga yang tidak mau rumhanya dipasang stiker, sehingga data warga miskin ekstreme yang terhimpun hanya 1.232 KK.
“Hari ini kita sudah lakukan pembekalan terhadap sekitar 120 Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) dan Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK)-nya 8 orang. Mereka yang akan membimbing, 1 petugas itu untuk 7 KK,” kata Isfihani pada Koran Kaltim, Senin (26/2/024).
Dari pelatihan ini juga jelasnya akan dilakukan pendataan, supaya nanti tidak ada lagi stigma dari masyarakat terkait pemerintah yang tidak mengurusi masyarakat miskin ekstrem. Ada pendataan pekerjaan, anak-anak, dan kesehatan.
Isfi menjelaskan, misalnya diantara warga ini ada yang belum mempunyai BPJS Kesehatan, maka nanti Dinsos PM yang akan buatkan. “Ada anaknya yang tidak bersekolah, nanti kita sekolahkan. Malah tadi saya sampaikan ke staf saya, kalau bisa mereka ini kita carikan orang tua asuh,” terangnya.
Rencana sementara ini akan dicarikan 10 orang tua asuh untuk pilot project. Ketika dilakukan pendataan ini, dia berharap bisa sekaligus mendata angka stunting juga.
Selain itu, dia juga meminta pendataan agar dilakukan lebih dirincikan, seperti ibu hamil, ibu menyusui, wanita remaja, calon pengantin. Ini nanti untuk antisipasi stunting dan kemiskinan ekstrem.
“Nanti ditanya, yang remaja putri pernah tidak ke posyandu untuk mendapatkan tablet penambah darah. Itu kan pencegahan-pencegahan semua, karena yang kita rinci yang rentan,” terangnya.
Berdasarkan informasi yang diterimanya, orang miskin merupakan penyumbang angka stunting sebanyak 30 persen karena tidak mampu membeli susu, atau tidak mampu memenuhi gizi harian. Apalagi mereka belum bisa mengelompokkan makanan yang bisa memenuhi gizi karena kebih memilih mi instan yang dinilai bertahan lama serta mudah.
“Padahal harga telur berapa sih, ditambah kangkung lagi, bayam. Kalau dibanding mie instan harusnya lebih baik sayuran ini,” pungkasnya.
Editor: Maruly Z