"Besok kita pasang, tapi kalau memang dia tidak merasa miskin ekstrem, boleh protes. Buat surat pernyataan langsung berikan ke lurah untuk ditandatangani," kata Isfihani pada korankaltim.com, Kamis (30/11/2023).
Isfi juga menegaskan, dalam satu tahun ini sudah terjadi pengurangan angka miskin ekstrem di Samarinda. Penyebab utama setelah dilakukannya verifikasi dan validasi (verval) sejak awal tahun.
Banyak data yang tidak sesuai, mengingat data awal berasal dari Kementrian Sosial (Kemensos) RI. Maka dari itu, dirinya menginginkan dengan adanya pemakaian stiker ini bisa membantu verval data.
"Sekaligus, kan ada program pengentasan kemiskinan ekstrem ini yakni bedah rumah. Tapi ada beberapa warga yang masih ngontrak bisa dicarikan solusi, kalau yang rumah sendiri ya nanti akan dibedah rumahnya,” terangnya.
Untuk diketahui, berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) sekitar 2019, jumlah warga miskin di Samarinda sekitar 44 ribu jiwa. Sebanyak 9.032 orang diantaranya masuk kategori miskin ekstrem.
Namun, setelah divalidasi pada tahun ini, jumlah warga miskin ekstrem di Samarinda berkurang menjadi 6.973 orang. Pengurangan disebabkan beberapa factor, seperti tidak jelas posisinya saat ini, pindah status dan meninggal.
Editor: Maruly Z