Sejak tiga hari lalu air di bendungan yang biasanya melimpah mulai berkurang. "Air untuk pengairan sawah dari bendungan biasanya di musim seperti ini dikurangi dan dibagi untuk PDAM dan irigasi," jelas Ketua Kelompok Tani Muang Ilir Aliansyah kepada Korankaltim.com Kamis (3/8/2023).
Ali bersama puluhan petani lainnya mulai mengeluhkan kondisi ini dan berharap pengelola bendungan dapat meningkatkan lagi pendistribusian air untuk keperluan tanaman mereka.
Dengan kondisi yang ada saat ini petani tidak dapat berbuat apa-apa karena ini disebabkan musim kemarau, tetapi demi kebutuhan pertanian kelompok tani seringkali meminta pihak pengelola bendungan untuk membuka pintu air untuk mengairi sawah dan tanaman mereka.
"Yang jelas ketika kami minta (buka pintu air), pihak bendungan selalu membukaan, karena kan bendungan dibuat juga untuk pertanian," jelas Ali lagi.
Untuk satu kelompok tani di Lempake ada sekitar 30 sampai 40 anggota dengan berbagai tanaman seperti padi, bawang, kakao, jagung hibrida, lombok dan semuanya terdampak dengan kondisi kemarau saat ini.
"Petani padi yang sangat terasa dampaknya, karena air kebutuhan pokok untuk membasahi sawah, jika tidak ada air bisa jadi potensi gagal panennya tinggi," ujar Ali lagi.
Dirinya juga memaklumi apabila ada buka tutup pintu air untuk kebutuhan lainnya seperti PDAM, karena ini untuk persediaan air minum orang banyak.
"Yang jelas kami berharap, pengelola bendungan dapat memperhatikan kondisi petani, karena kami sudah mengeluarkan modal dan tenaga untuk menanam, apabila gagal panen ini kita minta kesiapa," tutup Ali.
Editor: Aspian Nur