Diketahui warga yang datang harus parkir dengan jarak cukup jauh, yaitu di Jalan Merapi dan Jalan Semeru sehingga tak bisa memantau langsung kendaraan mereka.
“Mau santai di depan kantor gubernur sekarang, parker motor langsung bayar lima ribu,” tulis seorang warga yang menyampaikan keluh kesahnya di media sosial tersebut.
Warga lain langsung ikut mengomentari postingan tersebut yang intinya juga mengeluhkan keberadaan tukang parkir memungut bayaran diluar harga normal.
“Parkir mobil saja 15 ribu rupiah, terus habis itu ditinggal,” kata warga lain.
Belum lagi menurut mereka banyaknya pengamen yang mengganggu karena sejatinya mereka datang ke tempat tersebut untuk bersantai menikmati suasana sore hingga malam melihat indahnya Sungai Mahakam.
“Duduk disana biar sebentar apalagi malam, siapkan uang dua ribuan, banyak penyanyi (pengamen), tidak sampai satu lagu habis, bergantian datang,” keluh mereka.
Meski ada warga yang menyebut bayar parkir niatkan untuk sedekah, namun yang lain menimpali kalau hal itu tidak dibenarkan. “Kalau masuk kantong pribadi apanya mau diniatkan sedekah. Kalau masuk kas daerah dan efeknya kembali ke masyarakat dalam bentuk fasilitas kota itu baru betul. Tidak apa ada parkir tapi sewajarnya. Hari ini bayar lima ribu rupiah, besok-besok bisa sepuluh ribu kalau dibiarkan,” ucap yang lain.
Bahkan tak sedikit warga yang kehilangan helm di tempat parkir padahal ada juru parkir yang mengawasi. “Parkir sendiri, keluarkan motor dari parkiran sendiri, helm hilang, motor lecet, tukang parkir tidak tanggungjawab. Ini bukan persoalan uang parkir tapi legalitas dan tanggungjawab,” tegas mereka.
Ada juga yang membandingkan suasana di Tepian Mahakam 25 tahun silam. “Sekitar 25 tahun lalu sore-sore bawa anak kesana (Tepian Mahakam), nyaman santai dan bermain, tidak ada tukang parkir dan tidak ada yang jualan,” kata warga.
Wali Kota Samarinda, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Dinas Perhubungan (Dishub) Samarinda hingga aparat kepolisian disebut-sebut warga di kolom komentar dan diminta menindak hal itu. “Parkir liar di depan kantor gubernur dari dulu sampai sekarang tidak ada tindakan,” tulis mereka.
Menariknya, ada warga yang membandingkan lokasi santai di Tepian Mahakam Samarinda dengan di Tenggarong, Kutai Kartanegara. “Lebih enak santai ke Tepian Mahakam di Tenggarong, tidak ada juru parkir, tidak khawatir helm hilang, bisa santai dengan keluarga dan lebih tenang,” kata mereka.
Editor: Aspian Nur