Para pekerja tersebut berangkat dari Kubar pukul 01.30 WITA dini hari dan tiba di Samarinda pukul 07.00 WITA langsung menuju kantor gubernur.
Tujuan kedatangannya tersebut untuk mengadu karena perusahaan dimana almarhum Donatus bekerja sebagai mandor sawit diduga enggan untuk membiayai kepulangan jenazah ke kampung halamannya di Desa Halimodok, Kecamatan Tasipeto Timur, Kabupaten Belu, NTT.
Kakak kandung almarhum Maksimus Moruk ditemui Korankaltim.com di depan Kantor Gubernur Kaltim pagi tadi menjelaskan hal tersebut. "Kami kesini untuk mengadu, karena pihak perusahaan tidak mau mendahulukan pesangon selama kerja 5 tahun, Kalau dihitung-hitung pesangon lima tahun itu cukup untuk memulangkan jenazah, tetapi ternyata perusahaan tidak mau, makanya kami kesini untuk mengadu," ujar Moruk.
Mengenai kronologis adiknya meninggal dunia, pria 42 tahun itu menjelaskan Rabu (27/9/2022) dua hari lalu Donatus pulang sore usai kerja absen finger print di mes dan tiba-tiba terjatuh dan kemudian ditolong oleh rekan-rekannya.
"Waktu jatuh dan ditolong temannya adik saya sempat muntah, terus dibawa ke klinik diberikan obat maag, setelah itu tidur di kamarnya," paparnya.
Tetapi Kamis (28/9/2022) pagi sekitar pukul 05.00 WITA rekan-rekannya tak melihat almarhum dan mengecek ke kamarnya. "Dia posisinya tidur tengkurap, saat dicek temannya ternyata badannya sudah kaku," jelas Moruk lagi.
Hingga berita ini diturunkan sekitar pukul 13.32 WITA ambulans berisi peti jenazah mandor sawit tersebut masih terparkir di depan kantor gubernur untuk menunggu kepastian pemprov menfasilitasi ke pihak perusahaan tempat almarhum bekerja.
Penulis:Nancy
Editor: Aspian Nur