Dengan semua fakta tersebut. Pertanyaan berani tentang; apa jadinya, jika Sungai Mahakam tiba-tiba menghilang? Dapat menjadi pemicu pertanyaan selanjutnya yang senada. Jawaban-jawaban dari pertanyaan tersebut, meskipun tak benar-benar diniatkan untuk sekadar menjawab soalan itu.
Fakta-fakta kedekatan masyarakat Kota Samarinda, sejak mula-mula hingga pada era saat ini yang selalu bersentuhan dengan Sungai Mahakam, diuraikan secara oleh Muhammad Sarip dalam buku terbarunya berjudul: Sungai Mahakam dalam Arus Sejarah dan Budaya Samarinda.
Pertanyaan pengandaian menghilangnya Sungai Mahakam, juga dilontarkan saat acara peluncuran buku tersebut di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Samarinda, Kamis (22/9/2022) lalu. Tepatnya, ditanyakan oleh akademisi, pegiat budaya dan seniman Kutai, Aji Qamara Hakim.
Dalam peluncuran buku yang dikemas dalam diskusi bersama Wakil Wali Kota Samarinda Rusmadi, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Samarinda Asli Nuryadin, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Samarinda Erham Yusuf tersebut, Muhammad Sarip yang ditanya tak memberi jawaban gamblang, mengenai apa yang ada di kepalanya berkaitan dengan bayangan Samarinda, tanpa Sungai Mahakam.
Namun, secara tidak langsung. Keuletan Sarip mengumpulkan catatan-catatan, dan data-data dari sumber-sumber yang diverifikasi, hingga terkumpul menjadi sebuah buku yang memberikan gambaran bagaimana sedianya Samarinda, yang memang sejak dulu punya keterikatan dengan Sungai Mahakam sebagai sebuah peradaban.
Dalam paparannya, Sarip menyinggung tentang kedatangan Presiden Republik Indonesia Sukarno, pada tahun 1950-an. Sang Proklamator, memilih mendarat di Sungai Mahakam, ketika menumpang Pesawat Catalina, yang berjenis amfibi.
Selain itu, karena posisinya yang berada di pinggir Sungai Mahakam, Samarinda juga kata Sarip menurut banyak catatan sejarah, akhirnya menjadi kota bandar perdagangan. Bahkan, seorang asisten residen dari Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda, ditugaskan mengontrol aktivitas perdagangan di Samarinda, pada sekitar tahun 1896.
Hal ini menyusul penetapan Kota Samarinda, sebagai pusat politik dan ekonomi oleh Gubernur Hindia Belanda melalui Surat Keputusan No 75 pada 16 Agustus 1896.
Di luar hal-hal tersebut, Sarip juga memaparkan tentang bagaimana Sungai Mahakam yang membentuk budaya warga Kota Samarinda ditinjau dari bentuk rumah yang banyak digunakan oleh masyarakat kota ini, yaitu rumah panggung.
Hal ini seperti memberi penegasan terkait sikap tanggap, atau antisipatif dari warga kota, dengan menyadari keberadaan tempat tinggal mereka yang berada di pinggiran sungai.
Dengan demikian, pertanyaan Jika Sungai Mahakam Tiba-tiba Menghilang? Secara tidak langsung sudah dijawab oleh Muhammad Sarip, melalui bukunya; Sungai Mahakam dalam Arus Sejarah dan Budaya Samarinda.
Jika pada abad 18 saja, Sungai Mahakam sudah membawa Samarinda ke level kota pusat politik dan ekonomi, maka jika tak ada Sungai Mahakam, bisa jadi saat ini ibu kota Provinsi Kaltim tidak akan berada di kota berjuluk Tepian ini.
Dalam sesi wawancara dengan Koran Kaltim usai acara peluncuran buku, Sarip mengaku tak cuma menuangkan hal di masa lampau yang bersifat makro ekonomi. Tapi, sentuhan humanis seperti bagaimana aktivitas warga kota berenang di Sungai Mahakam, hingga fenomena hantu banyu turut dikemukakan.
"Sekitar 90 persen, sumber saya dapatkan dari sumber tertulis. Walaupun ada yang didapat melalui sumber lisan, juga," kata Sarip.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Samarinda Rusmadi mengaku buku yang diluncurkan Sarip atas permintaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Samarinda ini memberinya inspirasi. Ungkapan belajar dari sejarah, menjadi mutlak.
Dengan mengetahui apa yang terjadi di masa lalu, Rusmadi mengaku perencanaan program-program pemerintah menjadi lebih terarah dan terukur. "Kami kan punya masterplan pembangunan, yang terkait langsung dengan Sungai Mahakam. Bicara Sungai Mahakam bukan sekadar objek wiasata tapi juga banyak potensi dari sektor industri, yang bisa dikembangkan untuk mendorong perekonomian kita," papar Rusmadi.
Penulis : Rusdianto