Oknum Dosen Universitas Ternama di Kalimantan Timur Diduga Lakukan Tindak Asusila kepada Tiga Mahasiswi, LKBH dan PUSHPA Lapor ke Polresta Samarinda
2 menit baca1.403 kali dibaca

2 menit baca1.403 kali dibaca

KORANKALTIM.COM, SAMARINDA – Tiga mahasiswi yang kuliah di Universitas Mulawarman Fakultas Kehutanan diduga jadi korban tindak pidana asusila pada 2021 tahun lalu.
Hal itu diketahui setelah Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) Fakultas Hukum Universitas Mulawarman (Unmul) dari universitas tersebut bersama Pusat Studi Perempuan dan Anak (PUSHPA) Senin (29/8/2022) pagi tadi sekitar pukul 10.00 WITA mendatangi Polresta Samarinda untuk menyampaikan laporan tertulis terkait peristiwa ini.
Robert Wilson, satu diantara tim advokat LKBH Unmul saat ditemui Korankaltim.com di Mapolresta Samarinda menjelaskan hal ini.
"Dugaan tindak asusila ini dilakukan oleh oknum dosen di Unmul Fakultas Kehuntan terhadap tiga mahasiswi di waktu yang berbeda. Kami datang untuk melapor kepada polisi supaya diproses sesuai hukum yang berlaku," tegas Robert siang tadi.
Laporan tertulis ini masih tahap awal dan mereka menyerahkan seluruhnya kepada penyidik. "Untuk selanjutnya, beberapa hari kedepan tentunya akan ada konfirmasi lagi ke kami apa perkembangannya. Hari ini hanya penyerahan berkas saja, mekanismenya nanti ada disposisi dari Kapolresta kemudian ke Kasat Reskrim, setelah itu barulah ditunjuk ke penyidik, kemudian nanti akan ada undangan klarifikasi dari penyidik," papar Robert.
Dugaan perbuatan oknum dosen tersebut dilakukan di waktu yang berbeda namun secara garis besar tindakan itu tersebut hampir serupa. "Oknum dosen itu merupakan dosen pembimbing dari mahasiswi. Perbuatannya dilakukan saat korban menjalani bimbingan atau konsultasi tugas akhir, saat itulah terjadi pelanggaran kesusilaan hingga membuat korban menjadi trauma," ungkap Robert lagi.
Disebutkan Robert jika tindak asusila yang dilakukan oknum dosen ini adalah menyentuh pada bagian yang seharusnya tidak pantas. "Menurut kami tidak seharusnya dilakukan oleh seorang tanaga pendidik kepada anak didiknya tersebut," imbuhnya.
Kejadian pertama tahun 2021 lalu dan melihat rentan waktunya diduga masih ada korban lainnya, berdasarkan keterangan para korban. "Mungkin saja ada yang tidak berani atau malu menyampaikan, tetapi untuk ketiga korban ini mereka berkomitmen tujuannya memberi peringatan bagi semua, artinya jangan sampai kejadian serupa terus berulang. Harapannya ini menjadi peringatan bagi semua terutama tenaga pendidikan bahwa ada asas kesusilaan yang harus dijunjung tinggi, bagaimana seorang tenaga pendidik bukan hanya mengajar, tetapi mendidik," jelas Robert.
LKBH mengaku memiliki bukti tangkapan layer percakapan (chating) dimana memang dalam dugaan tindakan tak terpuji tersebut selalu ada bujuk rayu dan ada sifat mengajak.
"Juga ada bukti pemeriksaan dari ahli, dalam hal ini psikolog dalam memeriksa korban dan tentunya ini sangat berpengaruh pada psikis korban, mereka takut melihat kendaraan yang mirip dengan terlapor, termasuk mendengar suara dosen dari via zoom, dia gemetar hingga keringat dingin," tutup Robert.
Penulis: Nancy
Editor: Aspian Nur







Copyright © 2007 - 2026 Korankaltim.com | All Rights Reserved.
6 kali dibaca
Pusat gempa berada di laut 111 km tenggara Selayar
01 Okt 2026, 21:20:00 WIB • Kedalaman 10 km
Gempa ini dirasakan untuk diteruskan pada masyarakat
Sumber: BMKG