Ketiga daerah yang dimaksud Setyo adalah PPU, Paser, dan Kutai Timur. Selama Januari hingga Juni 2022, tercatat ada ratusan kasus yang terjadi di masing-masing daerah tersebut. Sebagai daerah dengan tingkat penularan tertinggi, PPU mencatat ada 440 kasus selama enam bulan terakhir, dengan dua kasus kematian yang dilaporkan.
Sedangkan di Paser dan Kutai Timur, masing-masing melaporkan ada 163 dan 123 kasus selama 2022 ini. Kasus kematian juga dilaporkan di Paser, sedangkan di Kutai Timur belum ada kasus kematian yang tercatat oleh pihaknya. “Ada juga kasus kematian akibat Malaria di Kutai Barat. Tapi jumlah kasus yang tercatat selama tahun ini 21 kasus,” sambungnya.
Setyo mengakui, 73,3 persen kasus Malaria terjadi di wilayah perbatasan PPU, Paser, dan Kutai Barat. Di ketiga wilayah tersebut penyebaran kasus malaria memang cukup tinggi.
Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, di Kaltim terjadi ribuan kasus malaria yang tercatat oleh Dinkes. Laporan jumlah kasus tertinggi terjadi pada 2020 lalu dengan jumlah 2.365 kasus. Sejak tahun 2018 hingga tahun 2021, setidaknya lima orang meninggal dunia setiap tahunnya akibat malaria.
Setyo menyebutkan masyarakat yang bekerja sebagai perambah hutan menjadi kelompok yang paling rentan terjangkit malaria. Ada 59,67 persen persen masyarakat yang bekerja sebagai perambah hutan yang terinfeksi malaria sepanjang tahun 2022 ini. Selanjutnya yang rentan terinfeksi malaria adalah kelompok yang bekerja di kebun atau kawasan kehutanan lain, termasuk pegawai perkebunan. Dua kelompok pekerjaan ini mencakup 25 persen dari jumlah kasus yang terjangkit malaria tahun ini.
“Dari 901 kasus yang terjadi selama tahun ini, separuh lebih atau sekitar 540 orang berprofesi sebagai perambah hutan. Mereka memang yang paling rentan,” tutupnya.
Penulis: */Permata S Rahayu
Editor: Supiansyah