Pria yang kerap disapa AH itu menjelaskan bahwa sebenarnya buntut dari peristiwa pengusiran karena kesalahpahaman antara kedua belah pihak, lantaran pembelajaran daring (dalam jaringan) yang pernah berjalan selama pandemi Covid-19, akan tetapi setelah pembelajaran kembali tatap muka siswi berinisial MF (10) tak kunjung hadir, sedangkan pihak sekolah memiliki aturan penegakan disiplin bagi muridnya yang tak hadir ketika pembelajaran tatap muka kembali dilaksanakan. "Nah kesalahpahaman itu terjadi pada titik ini," ucapnya Senin (6/6/2022).
Kini siswi berinisial MF dirawat oleh tantenya bernama Siti Munawaroh, karena ibunya telah meninggal dunia dan ayahnya tengah menjalani proses hukum. Sementara itu Siti Munawaroh tak hanya merawat MF saja terdapat beberapa anak lagi kini tinggal bersamanya.
"Hari ini saya datang, tiga anak ini Pemkot Samarinda akan menanggungnya sampai SMA dan satu anak lagi akan kami uruskan untuk menempuh jenjang pendidikan perkuliahan," jelasnya.
Selain bantuan jaminan pendidikan, ia juga telah memerintahkan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Samarinda, Hero Mardanus untuk dapat memasukan program bedah rumah terhadap hunian milik Siti Munawaroh.
"Karena menurut saya ini dihuni oleh banyak anak dan unsur layak huninya juga sudah tidak ada, semoga dapat bermanfaat," tandasnya.
Penulis: Claudius Vico
Editor: Supiansyah