“Iya ada perusahaan besar di Kaltim malah memberikan CSR (Cooperate Social Responsibility) ke UI. Sekitar Rp500 miliar, kenapa tidak diberikan ke Kaltim,” kata Hadi, Senin (10/5).
Politisi Partai Gelora ini menerangkan bahwa pertanyaan tersebut tentunya menggelitik masyarakat Kaltim. Ia menegaskan pertanyaan tersebut bukan berasal dari dirinya secara pribadi. “Tapi masyarakat yang tanya. Kok diberikan ke sana, bukan diberikan ke Kaltim?” imbuhnya.
Kemudian ia menyebutkan bahwa seperti yang sudah-sudah, masyarakat Kaltim akan selalu bersabar dengan kondisi yang demikian. Menurutnya, kalau memang masyarakat Kaltim geram, pasti akan ada gerakan terhadap perusahaan tersebut. “Ya bisa-bisa didemo. Tapi bersyukur kita (masyarakat Kaltim) sabar,” lanjut Hadi.
Hadi mengingatkan soal pentingnya keseimbangan. Khususnya untuk perusahaan agar melihat bahwa Kaltim menjadi tempat di mana perusahaan tersebut beroperasi. Artinya ada SUmber Daya Alam (SDA) dari Kaltim yang mereka keruk hingga bernilai ekonomi. Semestinya perusahaan bisa melihat kepentingan masyarakat Kaltim sebagai prioritas.
“Apalagi kalau perkaranya pendidikan. Harusnya kepentingan yang seperti ini menjadi perhatian perusahaan supaya kita ini enggak cuma merasakan dampak dari aktivitas mereka saja,” tegasnya.
Ia menegaskan bahwa tidak ada rasa iri atas kebijakan perusahaan tersebut. Namun ia hanya meminta keadilan agar perusahaan tersebut juga bisa turut memperhatikan kondisi masyarakat Kaltim.
“Dihitung saja berapa batu bara yang diambil. Bukannya iri, tapi kalau di sana diberi, di sini juga harusnya merasakan hal yang sama,” tutupnya.
“Ya mengecewakan. Tapi yang kecewa bukan saya saja. Masyarakat Kaltim tentu merasa kecewa,” tutupnya.
Penulis: */ Permata S Rahayu
Editor: Supiansyah