Konferensi ini sejatinya bertujuan agar para pemimpin negara berkomitmen untuk menahan laju pemanasan global dengan mengurangi pengeluaran gas rumah kaca. Tetapi sejak awal diselengarakan hingga saat ini, emisi gas rumah kaca justru terus meningkat dan keadaan bumi semakin memprihatinkan.
Aktivis lingkungan XR Bunga Terung Kaltim, Maulana Yudhistira menyebut para politisi terus membawa konflik kepentingan pelaku industri ekstraktif di seluruh dunia. Sehingga pelaksanaan COP ke-26 ini diduga kuat tidak akan bisa menyelesaikan krisis iklim dan hanya akan menjadi latihan greenwashing terbesar yang pernah dilakukan oleh pemerintah dunia.
"Jika COP bisa mengatasi krisis Iklim mengapa dibutuhkan sampai 26 kali pertemuan dan membahas yang itu-itu saja. Kata-kata besar dan janji palsu terus diutarakan, tapi tanpa aksi nyata dan seakan tidak mengerti sains sambil terus membiarkan keadaan makin memburuk," ucap Maulana, Sabtu (30/10/2021) malam.
Penyebab utama krisis iklim ialah pembongkaran hutan dan pembakaran energi. 71 persen penyebab krisis Iklim hanya disebabkan oleh 100 perusahaan dan sebagian di antaranya berada di Kaltim.
"Kaltim sampai sekarang terus jadi wilayah pengerukan dan penghancuran hutan yang masif," terang dia.
Padahal, yang masyarakat butuhkan adalah memastikan kedaulatan dalam sistem pembuatan kebijakan dan penentuan pembangunan negara melalui adanya balai masyarakat yang berdaulat, acak, adil dan representatif, serta terbebas dari kekuasaan terpusat dan konflik kepentingan.
Menurut Maulana, untuk keluar dari krisis iklim membutuhkan partisipasi aktif seluruh kalangan, sebab solusi yang sebenarnya sudah ada tinggal dilaksanakan.
Kemudian, menyebarkan kebenaran seluas-luasnya agar menjadi mandat untuk semua lapisan masyarakat guna dapat berkolaborasi demi membantu situasi.
"Mari bersama-sama bersuara dan beraksi agar para pemangku kebijakan bisa cepat sadar bahwa yang dilakukan sekarang adalah membawa kita berlari ke jurang kehancuran ekologis dan keruntuhan sosial," tutup dia.
Penulis : Faishal Ays
Editor : Bambang Irawan