Khusus pada titik penanganan dari kawasan Pampang, Samad sapaan karibnya membeberkan dari pengendalian itu bermanfaat untuk mengurangi limpasan air yang akan masuk ke Bendungan Benanga. "Jadi bisa juga mengurangi dampak banjir di kawasan Pampang serta mengurangi sedimentasi yang masuk ke dalam Waduk Benanga, pengerjaannya sekitar 20 hektare," bebernya.
Sedangkan pada kawasan Bengkuring pihaknya perlu memastikan kembali titik tepatnya pengerjaan. Sementara ini pihaknya juga tengah mengejar Detail Engineering Desain (DED) sebagai perencanaan dari kegiatan pengendalian banjir di dua titik itu. "Untuk anggarannya di APBD Perubahan 2021 ini sebesar Rp 2,5 miliar," ungkapnya.
Setidaknya terdapat 11 titik rencana pengendalian banjir yang potensial menjawab persoalan banjir di Samarinda yang dimana hal itu beracuan pada master plan banjir, akan tetapi dua titik itu yang sementara ini masih menjadi pilihan Pemkot Samarinda untuk digarap.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Samarinda, Sugeng Chairuddin mengatakan ada dua sasaran yang akan mendapatkan kegiatan penanganan. "Kita memilih penanganan mulai dari daerah hulu yaitu daerah Sungai Siring dan Pampang," ucapnya Kamis (30/9).
Bukan tanpa sebab Pemkot Samarinda memilih pengendalian mulai dari kawasan hulu Samarinda, sebab penanganan dari sana dinilai mengurangi beban tampungan yang ada di Bendungan Benanga. Kemudian kegiatan penanganan selanjutnya berada di kawasan Bengkuring yang sejauh ini masih dikenal sebagai kawasan langganan banjir. "Untuk kegiatannya bisa berupa pembangunan bendali, kolam retensi atau bendungan," tuturnya.
Penulis : Claudius Vico
Editor : Bambang Irawan