“UU tentang IKN kan belum selesai, belum tahu apakah RUU (Rancangan Undang-undang) IKN akan disetujui oleh DPR. Katakan disetujui, tapi kan itu masih nanti, sehingga pengumuman yang disampaikan Pak Jokowi saya nilai terlalu dini lah,” kata Luthfi Ahad (8/3/2020) kemarin.
Sebuah perangkat lunak yang belum terpasang, namun sudah memasukkan bagian pendukung dari perangkat tersebut. Hal itu, tentu saja akan memancing reaksi dari publik. Namun Luthfi memandang, hal ini justru adalah strategi Jokowi. “Saya khawatirnya itu hanya sebagai cara untuk melakukan test water, mengetes gelombang di air, seperti melempar batu di air itu. Dia lihat reaksi gelombangnya seperti apa, kalau reaksi gelombangnya masih landai, ada kemungkinan ada lemparan berikutnya yang kedua, sebagai upaya ralat,” paparnya.
Jokowi saat ini tengah melihat reaksi publik seperti apa. Ketika reaksi publik menguntungkan, atau paling tidak sependapat dengan apa yang diinginkan oleh presiden, bisa jadi dia akan melanjutkan rencana awal.
Tapi ketika muncul reaksi negatif, seperti mempertanyakan kenapa tokoh Kaltim tidak ada, bisa saja kemudian Jokowi melemparkan berita yang kedua. “Katakan dia berasalan, oh itu kemarin belum selesai, kan itu baru empat ini ada lagi. Siapa, satu atau dua tokoh dari Kaltim. Walaupun belum ada kemungkinan terpilih. Tapi masuk nominasi, itu kan cara untuk meminimalisir reaksi dari publik, terutama publik Kaltim yang notabene tempat di mana ibu kota akan di bangun,” paparnya.
Resistensi dari masyarakat Kaltim, terhadap empat nama disodor presiden disebut hal yang wajar oleh Luthfi. Selain faktor keterwakilan, beberapa nama-nama itu ada yang memiliki catatan di publik. “Yang disebut Jokowi, dua diantaranya pernah bermasalah secara publik yang menimbulkan resistensi. Azwar Anas pernah menimbulkan reaksi negatif ketika akan maju wakil gubernur akan dampingi Gus IpulI itu bukan sesuatu yang so far so good. Makanya sangat disayangkan kenapa elit hanya berputar di seputaran itu saja. Seperti tidak ada yang lain,” ungkapnya. (*)
Penulis: */Rusdi
Editor: Aspian Nur