Hingga saat ini, jumlah warga Buton yang tinggal di Gunung Manggah sudah sekitar 300 kepala keluarga (KK). Mereka datang karena mengikuti jejak para orangtua pendahulunya, sehingga lambat laun jadilah kawasan tersebut menjadi sebuah perkampungan.
“Ketika baru datang ke Samarinda, orangtua kami ada yang memiliki uang, mereka membeli tanah 4-5 hektar, waktu itu harga tanah sekitar Rp20 ribu per hektar, lalu dibagikan kepada warga yang lain. Kemudian saat banjir kap awal 70-an, banyak kayu sisa sawmill di daerah sungai Kunjang, potongan kayu itu dibawa dan dijadikan bahan membangun rumah,” kata La Tiru yang kini berprofesi sebagai tenaga keamanan di Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman (Unmul) tersebut.
Lambat laun, warga asal Buton pun tersebar tak hanya di Gunung Manggah saja, namun juga di Gunung Steling dan kawasan Gunung Damai yang masih berada di sepanjang jalan Otto Iskandar Dinata (Otista). “Sebenarnya di balik Gunung Steling itu (di kawasan belakang Rumah Sakit Islam) juga ada warga Buton, mereka pindahan dari Jl Nahkoda, tapi paling banyak jumlah kepala keluarga di Gunung Manggah ini,” jelas Latiru.
Meski sebagian besar warga Buton berprofesi sebagai pegawai kebersihan, namun jelas La Tiru tak sedikit pula yang berhasil menjadi pegawai di pemerintahan, termasuk menjadi tenaga pengajar di Unmul. Dia menerangkan, warga Buton berprinsip harus bekerja apa saja dan jangan gengsi dan malu.
Januari lalu, warga Buton di Gunung Manggah menggelar syukuran dan pentas kesenian. Selain untuk memeringati 48 tahun kedatangan mereka di Samarinda, juga guna mempererat tali silaturahmi. (*)
Penulis: */Maruli
Editor: Aspian Nur