Sugeng menjelaskan bahwa hujan yang turun Kamis lalu memang tergolong sangat lebat. Kondisi tersebut bahkan diperparah dengan air sungai yang sedang dalam kondisi pasang. Sehingga menyebabkan penurunan volume air berjalan lambat.
Selain perkara cuaca, Sugeng juga tak menampik bahwa pesatnya pembangunan di Samarinda berpengaruh pada wilayah resapan air. Saat ini ia mengakui bahwa daerah resapan air di Samarinda mengalami penurunan. Terlebih maraknya pembangunan perumahan dikawasan pegunungan yang tak jarang menyerobot kawasan lindung.
“Semua pembangunan perumahan yang mengajukan izin ke Pemkot pasti kita minta untuk membuat daerah resapan air atau minimal folder. Agar produk rumah tangga mereka tidak sampai ke selokan warga,” terang Sugeng.
Selanjutnya Sugeng memastikan untuk program penanganan banjir di Samarinda tetap dikerjakan secara rutin. Program tersebut diantaranya ialah pemaksimalan fungsi drainase dengan para hantu banyu. Selain itu normalisasi sungai pun turut dijadikan upaya mengurangi titik genangan di Samarinda.
Namun Sugeng mengaku kadang Pemkot Samarinda harus berbenturan dengan warganya sendiri, terutama saat sedang melakukan upaya pelebaran drainase disekitar pemukiman warga. Kendati demikian, ia menjaminkan bahwa Pemkot tetap akan memikirkan berbagai cara guna mengatasi banjit di Samarinda. (pmr119)