Apalagi di zaman digital sekarang, generasi muda juga sangat mudah mencari di internet di lokasi mana saja, sehingga penyediaan fasilitas wifi gratis tak lagi menjadi daya tarik khusus di lokasi tersebut. “Masyarakat tentunya bertanya, di dalam bangunan itu nanti isinya apa saja,” ucapnya.
Bersama sejumlah rekan lainnya di DPRD Samarinda, Sri Puji mengaku pernah ke sana untuk melihat lebih dekat. Jika hanya diisi dengan foto-foto saja, tentu masyarakat enggan untuk berkunjung. Makanya pada waktu berkunjung ke sana, ia sempat menanyakan bagaimana kesiapan instansi terkait untuk mengisi gedung dimaksud. Rencananya gedung tersebut akan diisi dengan tampilan gambar visual atau videotron. Di sisi lain, Pemkot berencana meleburkan kembali beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD), termasuk Dinas Kebudayaan yang akan bergabung dengan Dinas Pendidikan.
“Nah, ini yang menjadi persoalan kembali kalau itu jadi dilebur, seperti apa nanti pengelolaan gedung museum,” sebutnya.
Sejauh ini juga tidak ada pembicaraan dengan intansi terkait. Terakhir saat launching. Kemudian di Laporan Kegiatan Pertanggujawaban (LPKj) juga pihaknya sempat menyorot pembangunan museum dimaksud.
“Kan dipertanyakan fungsinya seperti apa? Seharusnya sebelum membangun, dipikirkan matang-matang perencanaannya dengan meminta pendapat masyarakat,” tandasnya.
Apalagi saat ini kondisi di sana masih minim fasilitas, baik penerangan maupun penunjang lainnya. “Ini juga harus di rencanakan secara matang. Apabila dibuka untuk umum. Kasihan pengunjung yang datang,” ungkapnya. (sn)