Ketua Bidang Perempuan dan Anak DPP PDI Perjuangan, I Gusti Ayu Bintang Darmawati, mengatakan bahwa pelatihan pemberdayaan perempuan akar rumput dinilai menjadi salah satu program utama di bidang perempuan dan anak periode 2025-2030
Menurutnya, langkah ini telah melewati proses yang cukup panjang, mulai dari focus group discussion (FGD), uji coba, hingga penyusunan modul pelatihan. Terlebih, hal ini juga dilakukan salah satunya dengan peluncuran aplikasi dan jingle sebagai sarana pendukung pelaksanaan di lapangan.
Bintang mengatakan bahwa perempuan selayaknya memiliki posisi setara dalam pembangunan, tidak sekadar menjadi penerima manfaat kebijakan, tetapi turut terlibat sebagai bagian dari proses pembangunan itu sendiri.
“Perempuan tidak boleh menjadi objek, tetapi harus menjadi subjek yang ikut berperan dalam pembangunan bangsa dan negara,” ujarnya, Minggu (1/11/2026).
Maka dari itu, ia berharap agar peserta mampu menjadi penggerak di lingkungan masing-masing. Langkah tersebut dapat dimulai dari persoalan sederhana di sekitar tempat tinggal, seperti memastikan warga yang kesulitan memenuhi kebutuhan pangan, anak yang stunting, hingga masyarakat yang belum mendapatkan akses pendidikan.
Kader perempuan, kata dia dapat berperan sebagai penghubung antara masyarakat dan struktur partai. Jika persoalan tidak dapat diselesaikan di tingkat lingkungan, aspirasi tersebut dapat diteruskan secara berjenjang mulai dari anak ranting, DPC, DPD, hingga DPP.
“Minimal mereka bisa menjadi jembatan. Kalau tidak bisa melakukan advokasi, setidaknya membantu memediasi dan mendatangi keluarga di sekitar rumahnya. Apakah ada yang tidak bisa makan, ada yang stunting, atau ada yang buta huruf,” jelasnya.
Sementara itu, Sekretaris DPD PDI Perjuangan Kaltim, Ananda Emira Moeis, mengatakan pelatihan tersebut diikuti sekitar 121 perempuan dari seluruh kabupaten/kota di Kaltim. Peserta berasal dari berbagai tingkatan kepengurusan, mulai dari DPC, PAC hingga ranting.
Pembekalan yang diberikan mencakup ideologi dan organisasi partai, penguatan potensi diri, pemahaman kebijakan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, penyerapan aspirasi, hingga peningkatan keterampilan komunikasi dan kepemimpinan.
Peserta juga dibekali pemahaman mengenai mekanisme penyampaian aspirasi agar kebutuhan masyarakat dapat diperjuangkan melalui tiga pilar partai.
Ananda berharap, setelah kembali ke daerah masing-masing, para peserta lebih berani menyuarakan persoalan masyarakat dan mengambil langkah advokasi.
“Harapan saya, mereka bisa lebih berani bersuara, lebih berani bergerak, dan lebih berani melakukan advokasi untuk berpihak kepada warga, minimal di lingkungan tempat tinggalnya. Kader perempuan jangan hanya menjadi penonton, tetapi menjadi motor penggerak pembangunan di Kalimantan Timur,” tegasnya.
Lebih jauh, pelatihan tersebut juga diarahkan untuk mendukung rencana pembentukan relawan kesehatan di setiap kelurahan. Para perempuan yang mengikuti pembekalan nantinya diharapkan dapat membantu warga yang mengalami kendala mengakses layanan kesehatan.
Bentuk pendampingannya antara lain membantu masyarakat mengurus kepesertaan BPJS Kesehatan yang tidak aktif hingga memfasilitasi kebutuhan rujukan dan transportasi menuju rumah sakit.
Ananda mengungkapkan, Samarinda direncanakan menjadi lokasi proyek percontohan program tersebut. PDI Perjuangan menyiapkan rencana penyediaan ambulans di setiap kelurahan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan transportasi dari rumah menuju rumah sakit maupun sebaliknya.
Dengan demikian, pelatihan Perempuan Penggerak Akar Rumput diharapkan tidak sekadar menghasilkan kader yang memahami materi, tetapi juga perempuan yang mampu hadir langsung di tengah masyarakat dan membantu menjawab persoalan warga.
Sebagai informasi, PDI Perjuangan menggelar pelatihan Perempuan Penggerak Akar Rumput yang digelar selama 31 Oktober hingga 1 November di Sekretariat DPD PDI Perjuangan Kaltim. Kegiatan tersebut diikuti sekitar 121 peserta yang mewakili 10 kabupaten/kota di Kaltim.
Editor: Erwin
Ketua Bidang Perempuan dan Anak DPP PDI Perjuangan, I Gusti Ayu Bintang Darmawati, mengatakan bahwa pelatihan pemberdayaan perempuan akar rumput dinilai menjadi salah satu program utama di bidang perempuan dan anak periode 2025-2030
Menurutnya, langkah ini telah melewati proses yang cukup panjang, mulai dari focus group discussion (FGD), uji coba, hingga penyusunan modul pelatihan. Terlebih, hal ini juga dilakukan salah satunya dengan peluncuran aplikasi dan jingle sebagai sarana pendukung pelaksanaan di lapangan.
Bintang mengatakan bahwa perempuan selayaknya memiliki posisi setara dalam pembangunan, tidak sekadar menjadi penerima manfaat kebijakan, tetapi turut terlibat sebagai bagian dari proses pembangunan itu sendiri.
“Perempuan tidak boleh menjadi objek, tetapi harus menjadi subjek yang ikut berperan dalam pembangunan bangsa dan negara,” ujarnya, Minggu (1/11/2026).
Maka dari itu, ia berharap agar peserta mampu menjadi penggerak di lingkungan masing-masing. Langkah tersebut dapat dimulai dari persoalan sederhana di sekitar tempat tinggal, seperti memastikan warga yang kesulitan memenuhi kebutuhan pangan, anak yang stunting, hingga masyarakat yang belum mendapatkan akses pendidikan.
Kader perempuan, kata dia dapat berperan sebagai penghubung antara masyarakat dan struktur partai. Jika persoalan tidak dapat diselesaikan di tingkat lingkungan, aspirasi tersebut dapat diteruskan secara berjenjang mulai dari anak ranting, DPC, DPD, hingga DPP.
“Minimal mereka bisa menjadi jembatan. Kalau tidak bisa melakukan advokasi, setidaknya membantu memediasi dan mendatangi keluarga di sekitar rumahnya. Apakah ada yang tidak bisa makan, ada yang stunting, atau ada yang buta huruf,” jelasnya.
Sementara itu, Sekretaris DPD PDI Perjuangan Kaltim, Ananda Emira Moeis, mengatakan pelatihan tersebut diikuti sekitar 121 perempuan dari seluruh kabupaten/kota di Kaltim. Peserta berasal dari berbagai tingkatan kepengurusan, mulai dari DPC, PAC hingga ranting.
Pembekalan yang diberikan mencakup ideologi dan organisasi partai, penguatan potensi diri, pemahaman kebijakan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, penyerapan aspirasi, hingga peningkatan keterampilan komunikasi dan kepemimpinan.
Peserta juga dibekali pemahaman mengenai mekanisme penyampaian aspirasi agar kebutuhan masyarakat dapat diperjuangkan melalui tiga pilar partai.
Ananda berharap, setelah kembali ke daerah masing-masing, para peserta lebih berani menyuarakan persoalan masyarakat dan mengambil langkah advokasi.
“Harapan saya, mereka bisa lebih berani bersuara, lebih berani bergerak, dan lebih berani melakukan advokasi untuk berpihak kepada warga, minimal di lingkungan tempat tinggalnya. Kader perempuan jangan hanya menjadi penonton, tetapi menjadi motor penggerak pembangunan di Kalimantan Timur,” tegasnya.