Debat Kandidat Capres, Begini Tanggapan Tim Pemenangan Daerah Kaltim
1 menit baca776 kali dibaca

Penulis: Claudius Vico
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Debat kandidat perdana ketiga Calon Presiden (Capres) telah dilaksanakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI pada Selasa (12/12/2023) malam.
Ketiganya beradu gagasan hingga saling melemparkan pertanyaan menambah menarik jalannya debat bagi siapa saja yang menyimak termasuk tim pemenangan di daerah.
Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kaltim, Syafruddin mengatakan, Capres nomor urut 1, Anies Rasyid Baswedan dalam debatnya telah menunjukan bentuk komitmennya melalui program nyata, seperti ruang pekerjaan bagi anak muda yang selalu terbentur dengan istilah kekuatan orang dalam.
"Keresahan kita sekarang adanya orang dalam di semua bidang, maka pak Anis akan memberantas praktek-praktek yang demikian sehingga semua anak bangsa punya ruang dan kesempatan yang sama untuk mengabdikan diri," ucap Udin, Rabu (13/12/2023).
Begitu juga menurutnya tentang kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang menjadi salah satu konsentrasi Anies ketika ia nanti terpilih akan berupaya menuntaskan masalah tersebut. "Iya pak Anis komit terhadap penyelesaian kasus pelanggaran HAM yang sampai hari ini belum menemukan titik terang," tegasnya.
Sementara itu, Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerindra Kaltim, Seno Aji menanggapi Capres nomor urut 2, Prabowo Subianto yang juga Ketua Umumnya sangat apik menanggapi pertanyaan yang ada, terutama mengenai pemberantasan korupsi yang menjadi komitmen Menteri Pertahanan ini ketika nantinya ia terpilih.
"Debat Pak Prabowo cukup baik dalam mengomentari dan menjawab pertanyaan-pertanyaan kandidat lain. Terutama tentang hukum di Indonesia yang perlu diperkuat baik segi penghasilan dan kepercayaan," ujar Seno.
Selain itu, Sekretaris Tim Pemenangan Daerah (TPD) Ganjar Pranowo dan Mahfud MD di Kaltim, Hamdani mengungkapkan, lewat debat kandidat tersebut memperlihatkan bagaimana kecerdasan seorang Ganjar Pranowo dari pemaparan program.
"Terlebih masalah pendidikan, pemerataan kesempatan mendapatkan pendidikan. Setiap keluarga miskin harus ada 1 anaknya yang menjadi sarjana," tutupnya.
Editor: Maruly Z










