Humor Bertebaran di Spanduk Mahasiswa Pendemo, Kesadaran Baru Politik Era Milenial
1 menit baca2.309 kali dibaca

KORANKALTIM.COM, JAKARTA - Selain menyisakan cerita soal benturan fisik dengan aparat keamanan, ada hal baru dan menarik dari aksi-aksi mahasiswa yang berdemonstrasi.
Hal baru itu adalah penggunaan bahasa humor pada spanduk yang dibawa oleh demonstran.
Berbagai tulisan nyeleneh pada spanduk bertebaran di media sosial selama aksi demonstrasi berlangsung. Sontak guyonan bertema politik tersebut membuat warganet mengapresiasi aksi yang dikemas dengan cara berbeda.
Spanduk-spanduk tersebut bukan hanya menyuarakan aspirasi yang diselipi humor, seperti:
"Cukup cintaku yang kandas, KPK Jangan"
"DPR medot janji, patah hati tetap aksi"
"Asap ini menghalangi ketampananku"
"DPR udah paling bener tidur, malah disuruh kerja"
Sosiolog Politik Universitas Airlangga, Novri Susan mengatakan, seruan aksi yang dikemas dengan gaya humor tersebut merupakan representasi dari bahasa politik. Menurutnya, salah satu ciri masyarakat digital saat ini adalah penggunaan bahasa humor politik.
Penggunaan ini, lanjut Novri, menciptakan protes pada kekuasaan, namun tidak mengidentifikasi penggunanya sebagai kelompok fanatik yang eksklusif.
"Bahasa humor politik sudah muncul sejak media sosial menjadi ruang komunikasi. Ini juga menandakan bahwa simbol dalam komunikasi politik mengalami pergeseran," ucap Novri dikutip dari kompas.com, Selasa (24/9/2019).(*)










