Selasa, 16/06/2026
Selasa, 16/06/2026
Kiper Cape Verde Vozinha, jatuh bangun di bawah mistar gawang menahan gempuran pemain Spanyol pada pertandingan pagi tadi. (Foto: Reuters)
Selasa, 16/06/2026

Kiper Cape Verde Vozinha, jatuh bangun di bawah mistar gawang menahan gempuran pemain Spanyol pada pertandingan pagi tadi. (Foto: Reuters)
KORANKALTIM.COM - Keindahan olahraga terletak pada kenyataan sesekali ia mampu menghadirkan hasil yang sungguh sulit dipercaya.
Hasil yang begitu tidak masuk akal dan tak terbayangkan hingga membuat penonton mengucek mata hanya untuk memastikan tidak salah lihat.
Itulah yang dilakukan Cape Verde, negara kecil di Afrika Barat dengan populasi hanya lebih dari setengah juta jiwa, yang untuk pertama kalinya tampil di panggung besar Piala Dunia berkat format baru FIFA yang melibatkan 48 negara.
Hanya sedikit yang memberi mereka harapan untuk lolos dari pertandingan pembuka yang menakutkan, melawan Spanyol yang berstatus juara Eropa dan favorit untuk mengangkat trofi Piala Dunia 2026, membuat pertemuan kedua negara sangat tidak seimbang.
Tapi apa yang terjadi? Pada laga perdana Grup H Piala Dunia 2026 di Atlanta Stadium, Senin (15/6/2026) pagi tadi, Cape Verde menahan gempuran Tim Matador dan berhasil mendapatkan satu poin dari hasil imbang 0-0 yang menghiasi papan skor.
Dalam pertarungan yang benar-benar mirip David melawan Goliath ini, tim underdog yang berani dan gigih itu punya rencana lain. Melawan segala prediksi, Cape Verde menahan imbang sang raksasa Eropa sekaligus menandai kejutan terbesar di Piala Dunia 2026 sejauh ini.
Dengan penyerang bintang Lamine Yamal dan Nico Williams yang dianggap belum cukup fit untuk menjadi starter, pelatih Spanyol Luis De la Fuente terpaksa memainkan opsi cadangan di sayap melalui Ferran Torres dan Gavi.
Ini adalah tim Spanyol yang hampir dalam kekuatan penuh, diisi oleh pemain-pemain kelas dunia seperti Rodri, Pedri dan rekrutan baru Real Madrid, Marc Cucurella dan mereka jauh tertinggal melawan satu tim underdog turnamen ini, yang peringkatnya ke-67 di dunia menurut FIFA.
Sejak peluit pertama dibunyikan, permainan Spanyol tidak menunjukkan semangat, tidak ada urgensi nyata untuk menembus pertahanan kiper Cape Verde yang luar biasa, Vozinha yang berusia 40 tahun yang tampil gemilang untuk menahan serangan mereka.
Para pemain asuhan De La Fuente bahkan tak bisa menyalahkan suhu 80 derajat di Atlanta atas awal pertandingan yang sangat lamban ini, mengingat laga tersebut berlangsung di Atlanta Stadium yang beratap tertutup dan ber-AC. Bahkan masuknya Yamal pun tidak cukup untuk membangkitkan semangat mereka di 20 menit terakhir.
Dan saat peluit akhir berbunyi, kamera langsung mengarah ke kiper Cape Verde Vozinha. Air mata mengalir di wajah pria berusia 40 tahun itu saat ia mulai menyadari betapa besarnya pencapaian yang baru saja diraihnya, setelah timnya bermain imbang 0-0 melawan La Furia Roja.
Tribun pun meledak dalam sorak sorai, dan ribuan pendukung Cape Verde yang telah mendukung tim mereka dengan sorakan tak henti selama 90 menit, merayakan bersama—berpelukan, menari dan menikmati hasil tersebut.
Di lapangan, para pemain berlari menghampiri satu sama lain dalam kegembiraan yang tak terkira. Bahkan penonton netral pun terbawa suasana. Saat pertandingan berakhir, banyak di antara mereka yang ikut merayakan.
“Saya menangis karena saya dibesarkan oleh kakek-nenek saya,” kata Vozinha setelah dinobatkan sebagai pemain terbaik pertandingan.
"Sayangnya mereka tidak ada disini. Mereka meninggal beberapa tahun yang lalu. Mereka adalah segalanya bagi saya, segalanya bagi hidup saya,” ungkap Vozinha.
“Dan juga karena ibu saya. Dia tidak bisa hadir di sini karena masalah visa. Karena biaya visa yang harus dibayar, kami tidak sempat mengurusnya tepat waktu. Saya ingin dia ada disini,” ucapnya lagi.
"Senjata terbaik kami adalah persatuan kami. Terlepas dari pemain yang datang hari ini, atau pemain yang berusia 10 atau 15 tahun, cara kami memperlakukan keluarga kami adalah kekuatan terbesar kami. Semua orang mengira kami datang ke sini hanya untuk menikmati Piala Dunia,” sebutnya.
Luis de la Fuente menyampaikan rasa tenang dan menyesalkan kurangnya akurasi di depan gawang. "Ini bisa diatasi dengan tetap berpegang pada pendekatan yang sama ," sebut arsitek Spanyol itu.
"Mereka (Cape Verde) adalah tim yang sangat terorganisir. Kami melihat mereka bermain bertahan, sehingga sangat sulit untuk menciptakan ruang. Meskipun demikian, kami menciptakan peluang, tetapi kami kurang dalam hal umpan untuk menghasilkan lebih banyak peluang mencetak gol,” imbuhnya.
Spanyol yang berada diperingkat tiga klasemen Grup H selanjutnya akan menghadapi Arab Saudi Senin (22/6/2026) pekan depan sementara Cape Verde di dasar klasemen melawan Uruguay dihari yang sama.
Di Grup H ini semua negara mengemas satu angka karena Uruguay yang memimpin klasemen bermain imbang 1-1 melawan Arab Saudi. Setelah sempat tertinggal lewat gol Abdulelah Alamri menit 41 babak pertama, Uruguay membalas jelang laga berakhir pada babak kedua menit 80 lewat gol Maximiliano Araujo.
Klasemen Sementara Grup H
Piala Dunia 2026: M M S K GK-GM P
1. Uruguay 1 0 1 0 1-1 1
2. Arab Saudi 1 0 1 0 1-1 1
3. Spanyol 1 0 1 0 0-0 1
4. Cape Verde 1 0 1 0 0-0 1
Editor: Aspian Nur
Selasa, 16/06/2026
Kiper Cape Verde Vozinha, jatuh bangun di bawah mistar gawang menahan gempuran pemain Spanyol pada pertandingan pagi tadi. (Foto: Reuters)
TERPOPULER