Minggu, 14/06/2026
Minggu, 14/06/2026
Kurash Kaltim bersiap untuk mengerahkan seluruh juri dan wasit lokal dalam Porprov VIII-Paser. (Foto: Dok.KONI Kaltim)
Minggu, 14/06/2026

Kurash Kaltim bersiap untuk mengerahkan seluruh juri dan wasit lokal dalam Porprov VIII-Paser. (Foto: Dok.KONI Kaltim)
Penulis: Ainur Rofiah
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA – Cabang olahraga (cabor) kurash memastikan pelaksanaan pertandingan pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kaltim 2026 di Kabupaten Paser akan ditangani mayoritas sumber daya manusia (SDM) lokal.
Federasi Kurash Indonesia (Ferkusi) Kaltim menilai kesiapan perangkat pertandingan di daerah sudah memadai, sehingga tidak lagi bergantung pada juri maupun wasit dari Pengurus Besar (PB) Ferkusi.
Sekretaris Umum Ferkusi Kaltim, Rudi Hartono, mengatakan seluruh kebutuhan juri dan wasit untuk Porprov 2026 akan dipenuhi oleh tenaga lokal yang berasal dari berbagai daerah di Kaltim.
Menurutnya, langkah tersebut dapat dilakukan karena Kaltim telah memiliki perangkat pertandingan yang mengantongi lisensi dan sertifikasi nasional sesuai standar yang ditetapkan.
Sejumlah perangkat pertandingan bahkan telah memiliki sertifikat nasional tingkat B yang menjadi syarat untuk memimpin pertandingan resmi pada level provinsi maupun nasional.
“Untuk kebutuhan juri sudah lengkap. Semuanya akan menggunakan juri lokal. Kita memiliki juri dan wasit yang sudah bertaraf nasional, termasuk yang telah mengantongi sertifikat B nasional,” ujar Rudi pada Minggu (14/6/2026).
Tidak hanya pada sektor penjurian, Ferkusi Kaltim juga telah menyusun komposisi wasit yang akan bertugas selama ajang Porprov berlangsung.
Sekitar 80 persen perangkat wasit berasal dari kabupaten dan kota di Kaltim, sementara sisanya disiapkan dari unsur Pengprov Ferkusi Kaltim untuk menangani kebutuhan teknis yang memerlukan kompetensi khusus.
Menurut Rudi, beberapa aspek teknis pertandingan kurash saat ini sudah menggunakan sistem digital, mulai dari pengelolaan skor hingga pengoperasian papan skor elektronik (scoring board).
Karena itu, diperlukan petugas yang telah mendapatkan pelatihan khusus agar seluruh proses pertandingan berjalan lancar dan sesuai standar.
“Beberapa bagian yang berkaitan dengan sistem digital, scoring board, dan kebutuhan teknis penting lainnya memang memerlukan operator yang telah mendapat pelatihan khusus,” imbuhnya.
“Setelah kami berkoordinasi dengan panitia pelaksana di daerah, mereka juga memahami kebutuhan tersebut dan tidak mempermasalahkannya,” tanbahnya.
Lebih lanjut, Rudi menegaskan keputusan tidak menggunakan perangkat pertandingan dari PB Ferkusi bukan semata-mata karena faktor teknis. Kebijakan tersebut juga menjadi bagian dari upaya pemberdayaan SDM olahraga yang selama ini telah dibina di Kaltim.
Menurutnya, Porprov merupakan momentum yang tepat untuk memberikan ruang kepada wasit dan juri daerah agar semakin berpengalaman dalam memimpin pertandingan resmi.
Dengan demikian, kualitas SDM olahraga di Kaltim dapat terus meningkat dan mampu bersaing pada level yang lebih tinggi.
“Kami ingin memaksimalkan fungsi dan peran wasit serta juri yang ada di Kaltim. Mereka sudah memiliki kompetensi yang dibutuhkan sehingga layak diberi kesempatan untuk bertugas secara penuh,” katanya.
Selain untuk meningkatkan kapasitas SDM lokal, penggunaan perangkat pertandingan dari daerah juga dinilai lebih efisien dari sisi anggaran.
Ferkushi Kaltim berharap biaya yang sebelumnya berpotensi digunakan untuk mendatangkan perangkat pertandingan dari luar daerah dapat dialihkan ke kebutuhan lain yang lebih mendesak dalam penyelenggaraan Porprov.
“Pertimbangannya juga soal efisiensi. Daripada mengeluarkan biaya tambahan untuk mendatangkan perangkat dari luar, lebih baik anggaran tersebut dialokasikan untuk kebutuhan lain yang lebih memerlukan dukungan,” pungkasnya.
Editor: Erwin
Minggu, 14/06/2026
Kurash Kaltim bersiap untuk mengerahkan seluruh juri dan wasit lokal dalam Porprov VIII-Paser. (Foto: Dok.KONI Kaltim)
TERPOPULER