Teknologi mengubah cara manusia bekerja, belajar dan berkomunikasi. Kecerdasan buatan mulai memasuki hampir setiap bidang kehidupan. Persaingan tidak lagi hanya ditentukan oleh ijazah, tetapi juga kemampuan berpikir, beradaptasi, dan menciptakan sesuatu yang bermanfaat. Perubahan ini membawa satu pertanyaan penting: bagaimana masa depan santri di tengah dunia yang terus berubah?
Pertanyaan tersebut terasa semakin dekat bagi masyarakat Kalimantan Timur. Kehadiran Ibu Kota Nusantara (IKN) membuka babak baru pembangunan daerah. Pertumbuhan ekonomi, perkembangan teknologi, dan meningkatnya kebutuhan sumber daya manusia akan membawa perubahan dalam kehidupan masyarakat. Santri yang hari ini duduk bersila mempelajari kitab kuning kelak akan menjadi bagian dari generasi yang menjalani kehidupan di tengah perubahan tersebut.
Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober menjadi kesempatan untuk merenungkan kembali perjalanan dan masa depan pesantren. Momen peringatan ini mengajak kita melihat kontribusi santri dalam perjalanan bangsa sekaligus memikirkan bekal yang mereka perlukan untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.
Dari Warisan Perjuangan Menuju Tantangan Zaman
Sejarah mencatat bahwa pesantren memiliki hubungan erat dengan perjuangan bangsa. Resolusi Jihad yang diserukan pada 22 Oktober 1945 menjadi salah satu bukti bagaimana ulama dan santri menempatkan kecintaan terhadap tanah air sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan.
81 tahun kemudian, tantangan yang dihadapi berbeda. Generasi santri tidak lagi berada dalam situasi perjuangan mempertahankan kemerdekaan seperti masa lalu. Mereka kini menghadapi tantangan untuk mengisi kemerdekaan melalui pendidikan, ilmu pengetahuan, penguatan ekonomi, dan pengabdian kepada masyarakat.
Nilai perjuangannya tetap sama, meskipun bentuk pengabdiannya berubah. Pesantren telah lama mengajarkan kesederhanaan, kedisiplinan, kemandirian, serta penghormatan kepada guru dan sesama manusia. Kebiasaan hidup bersama membentuk kepekaan sosial yang tidak selalu diperoleh melalui pendidikan di ruang kelas. Modal inilah yang perlu terus dijaga ketika pesantren berhadapan dengan perkembangan zaman. Namun, santri juga memerlukan penguasaan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan kesempatan yang memungkinkan mereka berperan lebih luas di tengah masyarakat.
Belajar dari Nasihat Imam Al-Ghazali
Dalam kitab Ayyuhal Walad, Imam Al-Ghazali menyampaikan nasihat yang patut direnungkan oleh setiap pencari ilmu: "Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, sedangkan amal tanpa ilmu tidak akan bermakna."
Ungkapan tersebut mengingatkan bahwa ilmu tidak cukup hanya dipelajari, dihafalkan, atau diperdebatkan. Pengetahuan memperoleh maknanya ketika mampu membimbing perilaku dan menghadirkan manfaat dalam kehidupan.
Nasihat yang lahir berabad-abad lalu itu justru terasa semakin dekat dengan keadaan sekarang.
Di tengah kemajuan teknologi, manusia dapat memperoleh berbagai informasi hanya melalui layar telepon genggam. Kecerdasan buatan bahkan mampu menyajikan jawaban dalam hitungan detik. Namun, belum tentu membuat seseorang lebih bijaksana dan bertanggung jawab.
Di sinilah pendidikan pesantren memiliki peran yang tidak kecil.
Santri perlu dibekali kemampuan untuk memahami perkembangan ilmu pengetahuan tanpa kehilangan pegangan moral. Mereka dapat mempelajari teknologi digital, bahasa asing, kewirausahaan, hingga kecerdasan buatan sambil tetap mendalami Al-Qur'an, hadis, fikih, dan tradisi keilmuan Islam.
Kedalaman ilmu agama tidak semestinya membatasi keinginan untuk mempelajari pengetahuan baru. Sebaliknya, kemajuan teknologi juga tidak seharusnya menjauhkan manusia dari nilai-nilai kemanusiaan dan tanggung jawab sosial.
Pesan Imam Al-Ghazali memberikan arah yang sederhana, tetapi mendalam. Ilmu perlu melahirkan tindakan serta harus dituntun oleh pengetahuan. Dalam kehidupan santri, keduanya dapat bertemu melalui karya, pelayanan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Santri dan Peluang Pembangunan IKN
Bagi Kalimantan Timur, pembangunan IKN membawa harapan sekaligus tantangan. Kehadiran pusat pemerintahan baru akan memengaruhi perkembangan pendidikan, ekonomi, pelayanan publik, dan kehidupan sosial masyarakat.
Pertanyaan yang perlu diajukan seberapa besar perubahan yang akan terjadi, serta siapa saja yang memperoleh kesempatan untuk tumbuh bersama perubahan tersebut.
Generasi santri seharusnya tidak menjadi penonton di daerahnya sendiri.
Pesantren di Kalimantan Timur memiliki peluang untuk mengembangkan pendidikan yang lebih terbuka terhadap kebutuhan masyarakat. Penguasaan teknologi informasi, keterampilan berbahasa, kewirausahaan, pertanian modern, dan ekonomi kreatif dapat menjadi bagian dari penguatan kapasitas santri.
Kalimantan Timur juga memiliki potensi besar pada sektor pertanian, peternakan, perikanan, dan usaha berbasis sumber daya lokal. Pesantren dapat mengambil peran melalui kegiatan produktif yang sesuai dengan kemampuan dan karakter lingkungannya.
Bayangkan apabila pesantren mampu mengembangkan kebun pembelajaran, usaha pengolahan pangan, koperasi santri, atau pemasaran produk lokal melalui platform digital. Kegiatan tersebut tidak sekadar memberi keterampilan ekonomi, tetapi juga mengajarkan tanggung jawab, kerja sama, dan kemandirian.
Tentu tidak semua pesantren mempunyai sumber daya yang sama. Sebagian masih menghadapi keterbatasan fasilitas, akses teknologi, tenaga pendidik, dan dukungan pembiayaan. Perhatian dari berbagai pihak sangat diperlukan.
Perguruan tinggi dapat mengambil peran melalui pendampingan ilmu pengetahuan dan inovasi. Pemerintah daerah dapat memperluas akses pendidikan dan pelatihan. Dunia usaha dapat membantu pengembangan keterampilan serta membuka kesempatan bagi produk dan usaha pesantren. Jalinan kerja sama ini lebih bermakna apabila menghasilkan perubahan yang dapat dirasakan langsung oleh santri dan masyarakat, bukan berhenti pada kegiatan seremonial.
Menjaga Tradisi, Merawat Masa Depan
Di tengah pembicaraan mengenai teknologi dan kemajuan ekonomi, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan. Pesantren memiliki kekuatan yang justru semakin dibutuhkan oleh masyarakat modern, yaitu pendidikan akhlak dan pembentukan karakter.
Kemajuan teknologi telah memberikan banyak kemudahan, tetapi juga menghadirkan persoalan baru. Penyebaran informasi yang menyesatkan, melemahnya etika komunikasi, dan kecenderungan menilai keberhasilan hanya dari ukuran materi merupakan sebagian tantangan kehidupan masa kini.
Santri diharapkan mampu menghadirkan keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kematangan moral. Mereka perlu belajar teknologi tanpa kehilangan kemampuan berpikir kritis, berinteraksi secara santun, dan menghargai perbedaan.
Pendidikan pesantren tidak harus meninggalkan tradisinya untuk menjadi modern. Tradisi justru dapat menjadi landasan dalam menyikapi perubahan.
Penghormatan kepada guru, kebiasaan bermusyawarah, ketekunan belajar, dan kesadaran hidup sederhana tetap memiliki tempat dalam kehidupan masa depan. Nilai-nilai tersebut perlu dipertemukan dengan keberanian bertanya, kemampuan berinovasi, serta keterbukaan terhadap gagasan baru.
Pesantren yang kuat bukanlah pesantren yang menutup diri dari perubahan, melainkan yang mampu menentukan mana yang patut dipertahankan dan mana yang perlu dikembangkan.
Menatap Indonesia Emas 2045
19 tahun menuju 2045 bukanlah waktu yang terlalu panjang dalam perjalanan pendidikan sebuah generasi. Santri yang sekarang berusia belasan tahun akan memasuki masa produktif ketika Indonesia memperingati satu abad kemerdekaannya.
Sebagian dari mereka kelak menjadi pendidik, pengusaha, peneliti, pemimpin masyarakat, petani modern, tenaga profesional, atau penggerak pembangunan di berbagai bidang.
Bekal untuk menjalankan peran tersebut harus dipersiapkan sejak hari ini.
Indonesia Emas 2045 tidak cukup dibangun dengan jalan yang luas, gedung yang tinggi, atau teknologi yang canggih. Kemajuan sebuah bangsa pada akhirnya juga bergantung pada kualitas manusia yang menjalankan dan mengelolanya.
Kalimantan Timur memiliki kepentingan besar dalam mempersiapkan generasi tersebut. Pembangunan IKN semestinya berjalan seiring dengan meningkatnya kesempatan pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk anak-anak yang menempuh pendidikan di pesantren.
Hari Santri 2026 mengingatkan kita bahwa tanggung jawab mempersiapkan masa depan tidak hanya berada di pundak para santri dan pengasuh pesantren. Pemerintah, perguruan tinggi, masyarakat, dan dunia usaha memiliki tanggung jawab yang sama untuk membuka kesempatan bagi mereka.
Nasihat Imam Al-Ghazali tersebut patut menjadi pengingat dalam perjalanan ini. Pengetahuan yang dimiliki generasi muda hendaknya tidak berhenti sebagai kebanggaan pribadi. Ilmu perlu tumbuh menjadi karya, kepedulian, dan pengabdian yang memberi manfaat bagi kehidupan bersama.
Masa depan tidak menuntut santri meninggalkan sarung, kitab, dan tradisinya. Masa depan justru membutuhkan generasi yang mampu menjaga akar nilai kehidupannya sambil memiliki keberanian untuk melangkah lebih jauh.
Di ruang-ruang belajar pesantren Kalimantan Timur, harapan itu sedang tumbuh. Dari tangan generasi yang hari ini tekun belajar, kita berharap lahir manusia-manusia yang bukan hanya siap menghadapi perubahan, tetapi juga mampu memberi arah bagi perubahan tersebut.
Sebab Indonesia Emas 2045 bukan sekadar tentang seberapa maju negeri ini kelak, melainkan juga tentang nilai-nilai apa yang tetap dijaga ketika kemajuan itu tiba. “Berakar pada Tradisi, Unggul dalam Inovasi, Mengabdi untuk Negeri.” (*)