Minggu, 16/08/2026
Minggu, 16/08/2026
Guru Besar Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof. Irwan Meilano. (Foto: Dok.ITB)
Minggu, 16/08/2026

Guru Besar Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof. Irwan Meilano. (Foto: Dok.ITB)
KORANKALTIM.COM, BANDUNG – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), memicu kekhawatiran akan terulangnya bencana gempa dan tsunami Flores 1992.
Guru Besar Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof. Irwan Meilano menyebut lokasi dan mekanisme gempa terbaru memiliki kemiripan dengan gempa besar yang pernah melanda Flores.
Gempa yang terjadi Sabtu (15/8/2026) itu tergolong dangkal dengan kedalaman sekitar 15 kilometer. Episentrumnya berada di laut, sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, atau kurang dari 40 kilometer dari pusat gempa Flores 1992 yang berkekuatan M7,9.
Kemiripan tersebut menjadi perhatian karena gempa Flores 1992 disusul tsunami besar yang menimbulkan kerusakan dan korban jiwa.
“Apabila kita melihat dari mekanisme gempa serta lokasi gempa, maka gempa ini sangat berdekatan dan memiliki kemiripan dengan kejadian gempa di Flores pada tahun 1992,” kata Irwan dikutip dari Antaranews, Minggu (16/8/2026).
Menurut dia, tingginya tsunami pada 1992 tidak hanya dipengaruhi kekuatan gempa, tetapi juga longsoran bawah laut yang terjadi setelah gempa. Karena itu, potensi longsoran bawah laut menjadi salah satu hal yang perlu diwaspadai dalam kejadian kali ini.
Kawasan sumber gempa tersebut berada pada struktur Flores Back-Arc Thrust atau Sesar Naik Busur Belakang Flores. Struktur ini memiliki rekam jejak kegempaan besar, termasuk gempa bermagnitudo 6,6 pada 2009 dan rangkaian gempa di utara Lombok pada 2018.
Irwan juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengendurkan kewaspadaan meski gempa utama telah terjadi. Menurutnya, pengalaman gempa Lombok 2018 menunjukkan gempa utama dapat diikuti aktivitas pada segmen yang berdekatan.
“Belajar dari gempa 2018 maka kewaspadaan itu tidak boleh berkurang. Sangat mungkin bahwa gempa ini kemudian memicu bagian segmen yang berdekatan,” ujarnya.
Puluhan gempa susulan dengan magnitudo di atas 6,0 juga dinilai masih berpotensi menimbulkan kerusakan, terutama pada bangunan yang telah terdampak gempa utama.
Irwan menyebut besarnya dampak gempa dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari magnitudo yang besar, kedalaman yang relatif dangkal, lokasi episentrum yang dekat dengan permukiman, hingga kondisi tanah dan kualitas bangunan.
Karena itu, pemerintah daerah dan tim tanggap darurat diminta segera memprioritaskan pemeriksaan bangunan strategis, terutama sekolah, fasilitas kesehatan, dan gedung pemerintahan.
“Ini kita sangat berharap bisa recover dalam waktu yang singkat,” pungkasnya.
Editor: Erwin
Minggu, 16/08/2026
Guru Besar Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof. Irwan Meilano. (Foto: Dok.ITB)
TERPOPULER