Sabtu, 29/11/2025
Sabtu, 29/11/2025
Hujan deras memicu tanah longsor yang terjadi di Sumatera Utara menghancurkan rumah warga, tak hanya harta, nyawa pun melayang. (reuters)
Sabtu, 29/11/2025

Hujan deras memicu tanah longsor yang terjadi di Sumatera Utara menghancurkan rumah warga, tak hanya harta, nyawa pun melayang. (reuters)
KORANKALTIM.COM - Bencana alam berupa banjir dan longsor yang melanda Asia Selatan dan Tenggara meningkat pesat pekan ini dan mendekati angka 400 orang meninggal dunia, 174 di Indonesia, 145 di Thailand dan 69 orang di Sri Lanka.
Pemandangan yang sama terulang diketiga negara tersebut yang mana kota-kota terendam air, penduduk yang terisolasi dan tanah longsor yang disebabkan oleh hujan lebat yang melanda selama beberapa hari.
Melansir dari laman AFP Sabtu (29/11/2025) hari ini, di Sumatera Utara Indonesia, banjir dan tanah longsor menyebabkan sedikitnya 174 orang meninggal dan 80 orang hilang menurut penghitungan resmi terbaru.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BPBN) Indonesia memperingatkan jumlah korban tewas dapat terus meningkat karena masih ada daerah yang tidak dapat diakses di mana kemungkinan terdapat korban.
Jumlah korban tewas sebelumnya adalah 111 orang. "Prioritas kami adalah mengevakuasi dan membantu masyarakat. Kami berharap cuaca membaik sehingga kami dapat mengirimkan helikopter," jelas Ferry Walintukan, juru bicara Kepolisian Daerah Sumatera Utara dan menambahkan akses jalan masih terputus. Di Medan banjir dilaporkan setinggi pinggang.
Misniati, warga Medan menceritakan perjuangan beratnya melawan banjir agar bisa bersatu kembali dengan suaminya.
"Saya melihat jalanan banjir. Saya mencoba kembali untuk memperingatkannya, tetapi air sudah setinggi pinggang saya," kata wanita 53 tahun itu.
Misniati harus melawan arus yang mengancam akan menghanyutkannya dan tiba di rumah dengan air setinggi dada. "Kami menghabiskan malam dengan terjaga, mengamati ketinggian air," ungkapnya.
Uli Arta Siagian dari Lembaga Sosial Masyarakat Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (LSM Walhi) setempat menyebut pembangunan yang berlebihan juga menjadi penyebab banjir dan tanah longsor. "Jika tutupan hutan terus menyusut dan digantikan oleh monokultur kelapa sawit, pertambangan atau aktivitas lainnya, ekosistem akan kehilangan kemampuannya untuk mengatur air," tegasnya.
Di Thailand, juru bicara pemerintah Siripong Angkasakulkiat melaporkan jumlah korban tewas di provinsi-provinsi selatan telah meningkat menjadi 145 orang dengan lebih dari 100 kematian terjadi di Songkhla. Jumlah korban tewas, yang sebelumnya mencapai 55 orang pada hari sebelumnya meningkat hampir tiga kali lipat dalam satu hari.
Wilayah selatan negara ini adalah yang paling terdampak. Di distrik Hat Yai, penduduk terpaksa naik ke atap rumah mereka sambil menunggu pertolongan dengan perahu.
Di Provinsi Songkhla tempat lebih dari 100 orang meninggal, kamar mayat rumah sakit sudah kewalahan, menurut para pejabat. "Kamar mayat sudah penuh, kami butuh kapasitas lebih," ujar Charn, seorang pejabat setempat.
Dua hari lalu, warga menceritakan kenaikan permukaan air yang tiba-tiba: "Air mencapai atap lantai dua," kata Kamban Wongpanya, pria berusia 67 tahun yang dievakuasi dengan perahu.
Chayaphol Promkleng, seorang pemilik toko, awalnya mengira tokonya akan selamat karena air hanya setinggi mata kakinya. Namun keesokan harinya ketinggian air mencapai pinggangnya, dan ia harus berlari menyelamatkan diri. Pemerintah Thailand menskors Bupati Hat Yai karena responsnya yang tidak memadai terhadap keadaan darurat.
Di Sri Lanka, pihak berwenang mengerahkan tentara untuk membantu para korban banjir dan tanah longsor yang menewaskan 69 orang dan 34 orang hilang, menurut penghitungan terbaru.
Diantara mereka yang tewas, 26 orang terkubur hidup-hidup akibat tanah longsor di distrik Badulla, di bagian tengah negara itu menurut Pusat Manajemen Bencana Nasional (DMC).
Helikopter dan kapal Angkatan Laut melakukan berbagai operasi penyelamatan, mengevakuasi penduduk yang mencari perlindungan di pohon, atap dan lokasi terpencil akibat banjir.
Hujan deras terus turun di pulau itu, di mana beberapa daerah mencatat curah hujan hingga 360 milimeter dalam 24 jam terakhir.
Di Malaysia , banjir yang menghancurkan sebagian besar wilayah utara negara bagian Perlis menewaskan dua orang. Negara-negara Asia Tenggara biasanya mengalami banjir dan tanah longsor selama musim hujan, yang berlangsung dari November hingga April. Kali ini, hujan musim hujan diperparah oleh badai tropis yang melanda wilayah tersebut.
Perubahan iklim telah membuat badai semakin dahsyat dengan hujan deras, banjir bandang, dan angin kencang. Meningkatnya suhu memicu akumulasi kelembapan dan episode hujan ekstrem, sementara pemanasan laut meningkatkan intensitas badai.
Editor: Aspian Nur
Sabtu, 29/11/2025
Hujan deras memicu tanah longsor yang terjadi di Sumatera Utara menghancurkan rumah warga, tak hanya harta, nyawa pun melayang. (reuters)
TERPOPULER