Penulis: Zulhamri
KORANKALTIM.COM, SANGATTA - Perumda Air Minum (Perumdam) Tirta Tuah Benua Kutai Timur (TTBKT) rutin memantau kualitas air baku Sungai Sangatta, khususnya di sekitar Intake IPA Kabo.
1 menit baca4 kali dibaca

Penulis: Zulhamri
KORANKALTIM.COM, SANGATTA - Perumda Air Minum (Perumdam) Tirta Tuah Benua Kutai Timur (TTBKT) rutin memantau kualitas air baku Sungai Sangatta, khususnya di sekitar Intake IPA Kabo.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan perubahan kualitas air tetap terdeteksi dan tidak mengganggu layanan kepada pelanggan.
Pemantauan dilakukan secara intensif setiap hari, terutama ketika kondisi sungai sedang pasang. Pemeriksaan meliputi kadar klorida, salinitas, Total Dissolved Solids (TDS), Electrical Conductivity (EC), serta pH air.
Asisten Manajer Laboratorium Perumdam TTBKT, Endah Budi Lestari mengatakan monitoring intensif telah dilakukan beberapa bulan lalu. Pemeriksaan tersebut menjadi bagian dari upaya memantau kemungkinan pengaruh air asin dari kawasan muara.
“Pengambilan sampel kami lakukan setiap hari dengan memperhatikan kondisi pasang, sehingga perubahan parameter kualitas air bisa diketahui secara berkala,” kata Endah, Minggu (4/10/2026).
Salah satu parameter yang menjadi perhatian ialah kadar klorida. Tingginya kandungan klorida dapat membuat air terasa asin dan dalam kondisi tertentu berpotensi mempercepat korosi pada material berbahan logam.
Hasil pemantauan menunjukkan kadar klorida di Jembatan Kampung Kajang sempat meningkat dari 315,6 mg/L pada 24 Agustus menjadi 330,8 mg/L pada 25 Agustus. Angka tersebut naik 15,2 mg/L atau sekitar 4,82 persen.
Meski terjadi peningkatan di kawasan tersebut, kondisi itu belum menunjukkan bahwa air asin telah memberikan pengaruh signifikan terhadap air baku di Intake Kabo.
Perbedaan konsentrasi terlihat pada hasil pemeriksaan 7 September. Saat kadar klorida di Jembatan Kampung Kajang mencapai 400 mg/L, kandungan di titik Prodesa Kabo hanya 4,8 mg/L.
“Angka di titik pengamatan memang bisa berbeda. Kami tidak hanya melihat satu lokasi, tetapi membandingkan hasil pemeriksaan dari beberapa titik hingga ke intake,” jelas Endah.
Perubahan warna air menjadi hijau tidak bisa langsung dikaitkan dengan tingginya kadar garam atau masuknya air laut. Kondisi tersebut lebih berkaitan dengan keberadaan organisme, alga maupun bahan organik di dalam air.
“Tidak bisa langsung disimpulkan sebagai dampak air laut karena ada faktor organisme, alga dan bahan organik yang juga dapat memengaruhinya,” tutupnya.
Editor: Erwin
76 kali dibaca

69 kali dibaca
Pusat gempa berada di darat 40 km utara Ruteng, Manggarai
04 Okt 2026, 17:13:09 WIB • Kedalaman 10 km
Gempa ini dirasakan untuk diteruskan pada masyarakat
Sumber: BMKG