Kasat Reskrim Polres Kutim, IPTU I Made Jata Wiranegara mengatakan pihaknya tengah melakukan penyelidikan dengan meminta keterangan beberapa saksi dan melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait.
“Kami belum bisa memberikan keterangan secara detail. Yang jelas ini masih proses pemeriksaan maupun penyelidikan di lapangan,” beber Jata, Selasa (1/11/2022).
Pihaknya pun telah membentuk tim untuk melakukan investasi dengan melibatkan sejumlah stakeholder atau pihak-pihak terkait. Termasuk dengan Inspektur Tambang dan pihak perusahaan.
“Kami sudah berkoordinasi dengan pihak perusahaan. Intinya kami sudah melakukan beberapa pemeriksaan sejumlah saksi. Saat ini masih kami dalami,” bebernya.
Menurut Jata, polisi belum bisa menarik kesimpulan dalam kasus ini. Karena itu, keterangan saksi dan penyelidikan di lapangan terus dilakukan untuk mengungkap fakta laka kerja itu. Proses ini kemungkinan membutuhkan waktu berhari-hari.
“Intinya kami sudah bergerak di lapangan untuk meminta keterangan sejumlah saksi namun belum ada hasil yang bisa kami simpulkan,” tukasnya.
Informasi dihimpun, kecelakaan ini menewaskan seorang pekerja beinisial H, warga Bengelon, Kutai Timur. Ia merupakan supervisor development program di perusahaan tambang batu bara tersebut.
Saat kejadian, korban bersama seorang helper tidur di depan LV sekitar area pengeboran, sekira pukul 01.35 Wita. Di saat bersamaan, buldoser TD 1208 melintas menuju area drilling. Kepala korban terlindas dan menyebabkan korban meninggal dunia di tempat.
General Manager External Affairs & Sustainable Dev PT KPC, Wawan Setiawan membenarkan laka kerja itu. “Bahwa ada kecelakaan tambang betul, kemudian jika ditanya apa yang terjadi, lebih baik nanti tunggu Inspektur Tambang,” kata Wawan dihubungi awak media.
Menurut Wawan, laka kerja ini tidak akan mengganggu aktivitas pertambangan secara keseluruhan. (*/Zulhamri)