Saat dikonfirmasi, Manager Corporate Social Responsibility (CSR) PT Kobexindo, Widy Subekti, membantah jika terjadi pengerusakan. Menurutnya, hingga saat ini gua tersebut masih ada. Ia memastikan kondisinya pun tidak ada kerusakan sedikit pun.
Bahkan, diakui agar tidak terjadi pengrusakan dengan memasang pagar di sekitar bibir gua tersebut. “Agar tidak ada kerusakan, memang akses masuk proses masih terkendala karena masih proses penataan struktur medan tanah. Nanti kami buat akses yang lebih baik,” sebutnya.
Meski demikian, pihaknya tetap tidak bisa memastikan, apakah gua tersebut nantinya tetap layak jadi objek wisata. Bahkan ia juga tak dapat memberikan jawaban, apakah Gua Segegeh masih dapat diakses oleh masyarakat umum.
“Masih kami rancang, untuk ke depan akan membuat tata letak pintu masuk yang jelas kami tetap menjaga agar agar gua itu tetap utuh,”sebutnya.
Namun, dapat dipastikan bahwa gua tersebut masuk dalam areal pembangunan pabrik semen, namun karena pertimbangan agar keutuhan gua segegeh tetep berdiri tegak. “Kawasan itu masuk dalam kewenangan kami. Jadi , tidak ada pengrusakan malah kami melindungi agar kondisinya tetap utuh dan terjaga,”katanya.
Terancamnya destinasi wisata tersebut sangat disayangkan oleh sebagian masyarakat sebab menjadi sumber mata air bagi warga sekitar. “Memang banyak terdapat destinasi wisata goa yang terbentuk dari kawasan karst yang akan dieksploitasi,” ucap Aco salah seorang warga setempat.
Menurutnya, awal mula warga desa menemukan gua tersebut juga tidak disengaja. Awalnya penduduk dari Pulau Miang yang ingin bertani dan berkebun. Maka beberapa warga coba membuka lahan di Desa Selangkau. Dulunya kawasan di sekitar gua sangat rimbun, hingga tak terlihat bentuk goa.
“Kalau dihancurkan manfaatnya belum terlalu lama dirasakan masyarakat sekitar. Belum semua masyarakat Kutim yang sudah berkunjung ke gua tersebut,” imbuhnya.
Sekedar diketahui, Gua Segegeh memiliki mata air berbentuk telaga di dalamnya. Bahkan, beberapa meter dari mulut gua sudah ada genangan. Telaga bentuk cekung dengan kedalaman yang cukup, dari mata air ini, terbentuk sungai yang langsung bermuara ke pantai. Namun kini keindahan alam itu telah hancur oleh aktivitas pabrik semen.
Penulis : */ Zulhamri
Editor : Bambang Irawan