Aulia menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Kukar hadir untuk meringankan beban masyarakat yang tertimpa musibah serta memastikan kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi selama masa pemulihan.
“Kami dari pemerintah daerah hadir untuk melihat langsung situasi dan kondisi warga yang terdampak. Kami berupaya meringankan beban para korban dan merencanakan langkah-langkah penanganan agar ketika terjadi musibah seperti ini, respons pemerintah bisa lebih cepat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Pemkab Kukar telah berkoordinasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan serta OPD terkait untuk menyusun langkah penanganan dalam jangka pendek, menengah, dan panjang.
Untuk jangka pendek, pemerintah berfokus pada pemulihan kondisi warga agar aktivitas sehari-hari dapat kembali berjalan.
Sementara itu, penanganan jangka menengah dan panjang diarahkan pada penataan serta pembangunan kembali sesuai ketentuan yang berlaku, termasuk mempertimbangkan bentuk bantuan yang dapat diberikan berdasarkan kewenangan pemerintah daerah.
Selain pemenuhan kebutuhan dasar, perhatian juga diberikan terhadap kondisi psikologis warga, khususnya anak-anak yang terdampak musibah. Menurut Bupati, proses pemulihan tidak hanya menyangkut kondisi fisik dan tempat tinggal, tetapi juga dukungan agar anak-anak tetap dapat melanjutkan pendidikan serta meraih cita-cita mereka.
Bupati juga menegaskan bahwa upaya penanggulangan kebakaran tidak cukup hanya mengandalkan petugas pemadam kebakaran ketika peristiwa telah terjadi. Menurutnya, langkah pencegahan dan mitigasi harus menjadi perhatian bersama, terutama di kawasan permukiman padat penduduk.
Ia mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi penyebab kebakaran, antara lain dengan memastikan kompor telah dimatikan setelah digunakan, memeriksa instalasi listrik, serta mencabut peralatan elektronik yang tidak diperlukan ketika meninggalkan rumah.
Selain itu, Aulia juga mendorong penguatan kegiatan sistem keamanan lingkungan (siskamling) di tingkat rukun tetangga (RT).
Kegiatan tersebut diharapkan menjadi sarana untuk meningkatkan kepedulian dan saling mengingatkan antar warga terhadap aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, termasuk pembakaran sampah di kawasan permukiman.
“Yang kita inginkan sekarang adalah bagaimana kita bisa melakukan mitigasi sehingga kebakaran ini tidak terjadi. Ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama, dan peran aktif masyarakat sangat penting untuk mencegah kebakaran di lingkungan masing-masing,” tegasnya. (*)
Aulia menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Kukar hadir untuk meringankan beban masyarakat yang tertimpa musibah serta memastikan kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi selama masa pemulihan.
“Kami dari pemerintah daerah hadir untuk melihat langsung situasi dan kondisi warga yang terdampak. Kami berupaya meringankan beban para korban dan merencanakan langkah-langkah penanganan agar ketika terjadi musibah seperti ini, respons pemerintah bisa lebih cepat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Pemkab Kukar telah berkoordinasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan serta OPD terkait untuk menyusun langkah penanganan dalam jangka pendek, menengah, dan panjang.
Untuk jangka pendek, pemerintah berfokus pada pemulihan kondisi warga agar aktivitas sehari-hari dapat kembali berjalan.
Sementara itu, penanganan jangka menengah dan panjang diarahkan pada penataan serta pembangunan kembali sesuai ketentuan yang berlaku, termasuk mempertimbangkan bentuk bantuan yang dapat diberikan berdasarkan kewenangan pemerintah daerah.
Selain pemenuhan kebutuhan dasar, perhatian juga diberikan terhadap kondisi psikologis warga, khususnya anak-anak yang terdampak musibah. Menurut Bupati, proses pemulihan tidak hanya menyangkut kondisi fisik dan tempat tinggal, tetapi juga dukungan agar anak-anak tetap dapat melanjutkan pendidikan serta meraih cita-cita mereka.
Bupati juga menegaskan bahwa upaya penanggulangan kebakaran tidak cukup hanya mengandalkan petugas pemadam kebakaran ketika peristiwa telah terjadi. Menurutnya, langkah pencegahan dan mitigasi harus menjadi perhatian bersama, terutama di kawasan permukiman padat penduduk.
Ia mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi penyebab kebakaran, antara lain dengan memastikan kompor telah dimatikan setelah digunakan, memeriksa instalasi listrik, serta mencabut peralatan elektronik yang tidak diperlukan ketika meninggalkan rumah.
Selain itu, Aulia juga mendorong penguatan kegiatan sistem keamanan lingkungan (siskamling) di tingkat rukun tetangga (RT).
Kegiatan tersebut diharapkan menjadi sarana untuk meningkatkan kepedulian dan saling mengingatkan antar warga terhadap aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, termasuk pembakaran sampah di kawasan permukiman.
“Yang kita inginkan sekarang adalah bagaimana kita bisa melakukan mitigasi sehingga kebakaran ini tidak terjadi. Ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama, dan peran aktif masyarakat sangat penting untuk mencegah kebakaran di lingkungan masing-masing,” tegasnya. (*)