Pengawas SPBU Pesut, Andika Triantama Saputra, mengatakan, antrean panjang ini mulai menjadi pemandangan harian sejak adanya penyesuaian harga BBM. Selisih harga sekitar Rp6.000 per liter ini membuat sebagian besar para pengendara pindah ke Pertalite.
“Dulu waktu selisih harga masih sekitar Rp2.000 pengguna mobil masih mau membeli Partamax. Tapi saat sudah melonjak harganya makin jauh rata-rata beralih ke Pertalite,” kata Andika, Kamis (15/10/2026).
Selain tingginya selisih harga BBM, keterbatasan kuota pengiriman BBM juga menjadi faktor utama terjadinya kemacetan antrean. Alokasi Pertalite yang diterima SPBU masih di angka 16 kilo liter (KL) per hari tanpa ada penambahan kuota.
Kata dia, di SPBU Pesut pengiriman dilakukan secara bertahap dan dibagi menjadi dua kali pengisian yakni delapan KL pagi dan delapan KL pada siang hari. Untuk jadwal kedatangan mobil tangki yang tidak menentu kerap membuat antrean kendaraan menumpuk bahkan sebelum proses pembongkaran muatan dilakukan.
“Kalau pasokannya cuma 16 KL per hari, sementara pengguna Pertalite melonjak drastis, tentu langsung terserap cepat. Pagi dijual, siang sudah habis,” ujarnya.
Penumpukan antrean kendaraan hingga ke bahu jalan umum sering kali mengganggu kelancaran arus lalu lintas di jalan tersebut, terutama di area yang relatif sempit.
“Kami mengatur sendiri lalu lintas kalau terlalu padat. Kadang ada pengendara yang membuat barisan jadi dua jalur, jadi harus kami rapikan supaya tidak menutup jalan utama,” jelasnya.
Andika berharap adanya penambahan alokasi BBM bersubsidi atau solusi distribusi dari Pertamina agar antrean kendaraan di Tenggarong dapat terurai dan kembali normal.
Editor: Erwin
Pengawas SPBU Pesut, Andika Triantama Saputra, mengatakan, antrean panjang ini mulai menjadi pemandangan harian sejak adanya penyesuaian harga BBM. Selisih harga sekitar Rp6.000 per liter ini membuat sebagian besar para pengendara pindah ke Pertalite.
“Dulu waktu selisih harga masih sekitar Rp2.000 pengguna mobil masih mau membeli Partamax. Tapi saat sudah melonjak harganya makin jauh rata-rata beralih ke Pertalite,” kata Andika, Kamis (15/10/2026).
Selain tingginya selisih harga BBM, keterbatasan kuota pengiriman BBM juga menjadi faktor utama terjadinya kemacetan antrean. Alokasi Pertalite yang diterima SPBU masih di angka 16 kilo liter (KL) per hari tanpa ada penambahan kuota.
Kata dia, di SPBU Pesut pengiriman dilakukan secara bertahap dan dibagi menjadi dua kali pengisian yakni delapan KL pagi dan delapan KL pada siang hari. Untuk jadwal kedatangan mobil tangki yang tidak menentu kerap membuat antrean kendaraan menumpuk bahkan sebelum proses pembongkaran muatan dilakukan.
“Kalau pasokannya cuma 16 KL per hari, sementara pengguna Pertalite melonjak drastis, tentu langsung terserap cepat. Pagi dijual, siang sudah habis,” ujarnya.
Penumpukan antrean kendaraan hingga ke bahu jalan umum sering kali mengganggu kelancaran arus lalu lintas di jalan tersebut, terutama di area yang relatif sempit.
“Kami mengatur sendiri lalu lintas kalau terlalu padat. Kadang ada pengendara yang membuat barisan jadi dua jalur, jadi harus kami rapikan supaya tidak menutup jalan utama,” jelasnya.
Andika berharap adanya penambahan alokasi BBM bersubsidi atau solusi distribusi dari Pertamina agar antrean kendaraan di Tenggarong dapat terurai dan kembali normal.