Terlebih, sampah menumpuk hingga cukup lama lantaran petugas tidak mengangkut material yang berada di luar kriteria sampah rumah tangga.
“Banyak yang membuang sampah di sana makanya bertumpuk. Petugas juga tidak mau mengangkut jika bukan sampah rumah tangga. Akhirnya, sampah dibiarkan di sini,” kata salah satu warga, Rian, Senin (12/10/2026).
Ia meminta warga lain turut disiplin dan bertanggung jawab dengan memasukkan sampah tepat ke dalam wadah penampungan, bukan sekadar meletakkannya di area luar.
Sementara itu, Kepala Bidang Pengolahan Sampah dan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kukar, Tri Joko Kuncoro, mengakui telah menerima keluhan tersebut dari warga.
Ia menjelaskan, area yang berada di depan gereja Jalan Maduningrat yang berdekatan dengan kawasan pasar basah sebenarnya rutin dibersihkan oleh petugas. Tetapi, masalah utama timbul akibat maraknya aktivitas berjualan di badan jalan yang terus menghasilkan sisa sampah secara berulang.
“Sampah di situ sebenarnya setiap pagi kami angkut, tapi persoalannya adalah sampah yang berasal dari aktivitas berjualan. Aktivitas itu pastinya menimbulkan masalah sampah, padahal kami terus memfasilitasi pengangkutannya,” ungkap Tri Joko.
Ia menegaskan, penanganan sampah di kawasan ini tidak bisa hanya mengandalkan petugas kebersihan. Perlu ada keterlibatan dan kolaborasi dari pemerintah kecamatan, kelurahan, hingga Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) untuk menertibkan para pedagang yang berjualan di lokasi yang tidak semestinya.
Para pedagang pun diimbau untuk berpindah dan memanfaatkan kios atau area berjualan resmi yang telah disiapkan oleh pemerintah daerah.
“Kalau aktivitas berjualan di jalan itu tak ditertibkan, persoalan sampah akan terus muncul. Kami ingin semua pihak ikut terlibat. Jangan sampai aktivitas yang menimbulkan sampah terus berlangsung, sementara petugas kebersihan yang harus menangani dampaknya,” tegasnya.
Joko turut menekankan pentingnya peran pengurus RT dan lurah dalam mengedukasi masyarakat serta mengatur titik pembuangan sampah. Kolaborasi lintas sektor dan kedisiplinan warga dinilai menjadi kunci agar persoalan sampah di Jalan Maduningrat tidak terus berulang.
Editor: Erwin
Terlebih, sampah menumpuk hingga cukup lama lantaran petugas tidak mengangkut material yang berada di luar kriteria sampah rumah tangga.
“Banyak yang membuang sampah di sana makanya bertumpuk. Petugas juga tidak mau mengangkut jika bukan sampah rumah tangga. Akhirnya, sampah dibiarkan di sini,” kata salah satu warga, Rian, Senin (12/10/2026).
Ia meminta warga lain turut disiplin dan bertanggung jawab dengan memasukkan sampah tepat ke dalam wadah penampungan, bukan sekadar meletakkannya di area luar.
Sementara itu, Kepala Bidang Pengolahan Sampah dan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kukar, Tri Joko Kuncoro, mengakui telah menerima keluhan tersebut dari warga.
Ia menjelaskan, area yang berada di depan gereja Jalan Maduningrat yang berdekatan dengan kawasan pasar basah sebenarnya rutin dibersihkan oleh petugas. Tetapi, masalah utama timbul akibat maraknya aktivitas berjualan di badan jalan yang terus menghasilkan sisa sampah secara berulang.
“Sampah di situ sebenarnya setiap pagi kami angkut, tapi persoalannya adalah sampah yang berasal dari aktivitas berjualan. Aktivitas itu pastinya menimbulkan masalah sampah, padahal kami terus memfasilitasi pengangkutannya,” ungkap Tri Joko.
Ia menegaskan, penanganan sampah di kawasan ini tidak bisa hanya mengandalkan petugas kebersihan. Perlu ada keterlibatan dan kolaborasi dari pemerintah kecamatan, kelurahan, hingga Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) untuk menertibkan para pedagang yang berjualan di lokasi yang tidak semestinya.
Para pedagang pun diimbau untuk berpindah dan memanfaatkan kios atau area berjualan resmi yang telah disiapkan oleh pemerintah daerah.
“Kalau aktivitas berjualan di jalan itu tak ditertibkan, persoalan sampah akan terus muncul. Kami ingin semua pihak ikut terlibat. Jangan sampai aktivitas yang menimbulkan sampah terus berlangsung, sementara petugas kebersihan yang harus menangani dampaknya,” tegasnya.
Joko turut menekankan pentingnya peran pengurus RT dan lurah dalam mengedukasi masyarakat serta mengatur titik pembuangan sampah. Kolaborasi lintas sektor dan kedisiplinan warga dinilai menjadi kunci agar persoalan sampah di Jalan Maduningrat tidak terus berulang.
Editor: Erwin