Koordinator Pos Sar Sangatta, Dwi Adi menjelaskan, insiden kecelakaan kapal ini pertama kali terungkap pada Selasa (6/10/2026) pekan lalu sekitar pukul 13.00 WITA. Seorang saksi yakni Anto mendapati sebuah kapal nelayan dalam kondisi mengapung tanpa pengemudi di area Perairan Muara Berau.
"Setelah dilakukan pemeriksaan di atas kapal itu tidak ditemukan adanya tanda-tanda keberadaan MK," kata Dwi Adi Senin (12/10/2026).
Kapal tersebut dikonfirmasi merupakan milik MK warga asal Jalan H Najamuddin RT 14, Desa Muara Badak Ulu, yang sebelumnya berangkat melaut untuk mencari udang. Laporan resmi kemudian diteruskan ke pihak berwenang untuk memulai operasi pencarian. Memasuki hari kelima operasi pencarian, Tim SAR Gabungan menggelar briefing dan langsung bergerak melakukan penyisiran udara dan laut.
"Operasi harian dihentikan sementara pada pukul 17.20 WITA kemarin. Hari ini kami lanjut lagi di hari ke-enam untuk melakukan pencarian," papar Dwi.
Proses pencarian di lapangan menghadapi sejumlah kendala alam, di antaranya jarak pandang terbatas akibat kabut asap, serta hempasan angin kencang dan ombak yang cukup besar di perairan terbuka.
Untuk menunjang kelancaran operasi, Tim SAR Gabungan mengoperasikan berbagai sarana dan prasarana, seperti, Rigid Inflatable Boat (RIB) Basarnas, Speedboat TNI AL dan perahu nelayan lokal.
Editor: Aspian Nur
Koordinator Pos Sar Sangatta, Dwi Adi menjelaskan, insiden kecelakaan kapal ini pertama kali terungkap pada Selasa (6/10/2026) pekan lalu sekitar pukul 13.00 WITA. Seorang saksi yakni Anto mendapati sebuah kapal nelayan dalam kondisi mengapung tanpa pengemudi di area Perairan Muara Berau.
"Setelah dilakukan pemeriksaan di atas kapal itu tidak ditemukan adanya tanda-tanda keberadaan MK," kata Dwi Adi Senin (12/10/2026).
Kapal tersebut dikonfirmasi merupakan milik MK warga asal Jalan H Najamuddin RT 14, Desa Muara Badak Ulu, yang sebelumnya berangkat melaut untuk mencari udang. Laporan resmi kemudian diteruskan ke pihak berwenang untuk memulai operasi pencarian. Memasuki hari kelima operasi pencarian, Tim SAR Gabungan menggelar briefing dan langsung bergerak melakukan penyisiran udara dan laut.
"Operasi harian dihentikan sementara pada pukul 17.20 WITA kemarin. Hari ini kami lanjut lagi di hari ke-enam untuk melakukan pencarian," papar Dwi.
Proses pencarian di lapangan menghadapi sejumlah kendala alam, di antaranya jarak pandang terbatas akibat kabut asap, serta hempasan angin kencang dan ombak yang cukup besar di perairan terbuka.
Untuk menunjang kelancaran operasi, Tim SAR Gabungan mengoperasikan berbagai sarana dan prasarana, seperti, Rigid Inflatable Boat (RIB) Basarnas, Speedboat TNI AL dan perahu nelayan lokal.
Editor: Aspian Nur