Penulis: Julika Hengin
KORANKALTIM.COM, UJOH BILANG - Surutnya Sungai Mahakam saat musim kemarau menjadi tantangan bagi transportasi di wilayah hulu Mahakam.
2 menit baca2 kali dibaca

Penulis: Julika Hengin
KORANKALTIM.COM, UJOH BILANG - Surutnya Sungai Mahakam saat musim kemarau menjadi tantangan bagi transportasi di wilayah hulu Mahakam.
Namun kondisi tersebut justru membuka peluang bagi pengemudi taksi ces untuk memenuhi kebutuhan angkutan penumpang dan logistik.
Di Tiong Ohang, Kecamatan Long Apari, Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), debit sungai sangat menentukan kelancaran perjalanan.
Ketika air surut ekstrem, speedboat dan longboat berukuran besar kesulitan melewati sejumlah titik karena munculnya batu dan kayu di jalur pelayaran.
Kondisi itu membuat perahu ces atau perahu kecil bermesin menjadi alternatif angkutan.
Ukurannya yang lebih kecil memungkinkan perahu melintasi jalur yang sulit dilewati angkutan sungai berukuran besar, meski tetap memiliki keterbatasan muatan dan risiko kerusakan.
Jarak Tiong Ohang ke ibu kota Kabupaten Mahulu di Ujoh Bilang sekitar 143 kilometer. Dalam kondisi normal, perjalanan menggunakan speedboat atau longboat melalui jalur sungai dapat memakan waktu sekitar enam jam.
Natalis Nalang motoris ces asal Kampung Datah Suling, telah menjalankan jasa angkutan rute Long Lunuk–Tiong Ohang selama sekitar tiga tahun dan lebih banyak beroperasi ketika musim kemarau karena kebutuhan angkutan meningkat.
“Kadang-kadang sembako, kadang-kadang penumpang, bawa orang, kadang-kadang bawa BBM,” kata Natalis.
Dalam sekali perjalanan, pria 36 tahun itu menyebut dapat membawa hingga empat drum BBM atau sekitar lima pikul sembako. Biaya perjalanan mencapai sekitar Rp23 Juta sekali jalan, termasuk bahan bakar.
Namun, kapasitas angkutan tetap harus disesuaikan dengan kondisi sungai. Semakin surut air, semakin sedikit penumpang dan barang yang dapat dibawa.
“Kalau memang surut betul, kita mengurangi penumpang. Kalau bawa barang, kita mengurangi,” ujarnya.
Surutnya sungai juga meningkatkan risiko kerusakan perahu. Natalis mengaku beberapa kali mengalami kerusakan setelah perahunya menghantam batu maupun kayu yang muncul di jalur pelayaran.
“Ya, baling-balingnya lepas, patah. Kadang-kadang perahu jebol, kena kayu, kena batu,” ungkapnya.
Biaya perbaikan dapat mencapai sekitar Rp500 ribu, tergantung tingkat kerusakan yang dialami perahu.
Meski menghadapi risiko tersebut, kebutuhan transportasi selama musim kemarau membuat Natalis tetap menjalankan jasa ces. Dalam sehari, ia biasanya hanya melakukan satu kali perjalanan.
Setelah tiba di tujuan, ia tidak selalu memperoleh penumpang atau muatan untuk perjalanan kembali. Kondisi tersebut membuatnya terkadang harus kembali tanpa membawa penumpang maupun barang.
Rute yang dilayaninya juga belum menjangkau seluruh wilayah Kecamatan Long Apari. Hingga kini, Natalis mengaku baru melayani perjalanan sampai kawasan Tiong Ohang dan belum sampai ke Long Apari.
Bagi Natalis, aktivitas sebagai motoris ces menjadi salah satu sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, terutama ketika musim kemarau meningkatkan kebutuhan transportasi sungai.
“Puji Tuhan, hasilnya lumayan bisa memenuhi kebutuhan di musim kemarau ini,” ungkapnya.
Editor: Aspian Nur
Namun kondisi tersebut justru membuka peluang bagi pengemudi taksi ces untuk memenuhi kebutuhan angkutan penumpang dan logistik.
Di Tiong Ohang, Kecamatan Long Apari, Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), debit sungai sangat menentukan kelancaran perjalanan.
Ketika air surut ekstrem, speedboat dan longboat berukuran besar kesulitan melewati sejumlah titik karena munculnya batu dan kayu di jalur pelayaran.
Kondisi itu membuat perahu ces atau perahu kecil bermesin menjadi alternatif angkutan.

Ukurannya yang lebih kecil memungkinkan perahu melintasi jalur yang sulit dilewati angkutan sungai berukuran besar, meski tetap memiliki keterbatasan muatan dan risiko kerusakan.
Jarak Tiong Ohang ke ibu kota Kabupaten Mahulu di Ujoh Bilang sekitar 143 kilometer. Dalam kondisi normal, perjalanan menggunakan speedboat atau longboat melalui jalur sungai dapat memakan waktu sekitar enam jam.
Natalis Nalang motoris ces asal Kampung Datah Suling, telah menjalankan jasa angkutan rute Long Lunuk–Tiong Ohang selama sekitar tiga tahun dan lebih banyak beroperasi ketika musim kemarau karena kebutuhan angkutan meningkat.
“Kadang-kadang sembako, kadang-kadang penumpang, bawa orang, kadang-kadang bawa BBM,” kata Natalis.

Dalam sekali perjalanan, pria 36 tahun itu menyebut dapat membawa hingga empat drum BBM atau sekitar lima pikul sembako. Biaya perjalanan mencapai sekitar Rp23 Juta sekali jalan, termasuk bahan bakar.
Namun, kapasitas angkutan tetap harus disesuaikan dengan kondisi sungai. Semakin surut air, semakin sedikit penumpang dan barang yang dapat dibawa.
“Kalau memang surut betul, kita mengurangi penumpang. Kalau bawa barang, kita mengurangi,” ujarnya.
Surutnya sungai juga meningkatkan risiko kerusakan perahu. Natalis mengaku beberapa kali mengalami kerusakan setelah perahunya menghantam batu maupun kayu yang muncul di jalur pelayaran.







“Ya, baling-balingnya lepas, patah. Kadang-kadang perahu jebol, kena kayu, kena batu,” ungkapnya.
Biaya perbaikan dapat mencapai sekitar Rp500 ribu, tergantung tingkat kerusakan yang dialami perahu.
Meski menghadapi risiko tersebut, kebutuhan transportasi selama musim kemarau membuat Natalis tetap menjalankan jasa ces. Dalam sehari, ia biasanya hanya melakukan satu kali perjalanan.
Setelah tiba di tujuan, ia tidak selalu memperoleh penumpang atau muatan untuk perjalanan kembali. Kondisi tersebut membuatnya terkadang harus kembali tanpa membawa penumpang maupun barang.

Rute yang dilayaninya juga belum menjangkau seluruh wilayah Kecamatan Long Apari. Hingga kini, Natalis mengaku baru melayani perjalanan sampai kawasan Tiong Ohang dan belum sampai ke Long Apari.
Bagi Natalis, aktivitas sebagai motoris ces menjadi salah satu sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, terutama ketika musim kemarau meningkatkan kebutuhan transportasi sungai.
“Puji Tuhan, hasilnya lumayan bisa memenuhi kebutuhan di musim kemarau ini,” ungkapnya.
Editor: Aspian Nur

428 kali dibaca



Pusat gempa berada di laut 30 km timur laut Mbay, Nagekeo
26 Okt 2026, 11:53:42 WIB • Kedalaman 13 km
Gempa ini dirasakan untuk diteruskan pada masyarakat
Sumber: BMKG
