Selasa, 18/08/2026

Kemarau Kembali Ganggu Distribusi Air Bersih di Mahulu

Selasa, 18/08/2026

Salah satu tempat produksi sumber air baku di sekitar Gunung Simpang Aguan Kampung Ujoh Bilang  yang mengalami penurunan debit hingga mengering saat musim kemarau. (Foto: Julika/Korankaltim.com)

Share
Join Grup Telegram Koran Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/+SsC4jer3I5syZWU1 atau klik tombol dibawah ini.

Grup Telegram Koran Kaltim

kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dahulu di ponsel.

Berita Terkait

Kemarau Kembali Ganggu Distribusi Air Bersih di Mahulu

Selasa, 18/08/2026

logo

Salah satu tempat produksi sumber air baku di sekitar Gunung Simpang Aguan Kampung Ujoh Bilang  yang mengalami penurunan debit hingga mengering saat musim kemarau. (Foto: Julika/Korankaltim.com)

Penulis: Julika Hengin

KORANKALTIM.COM, UJOH BILANG - Sistem penyediaan air bersih di Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) kembali menghadapi kendala saat musim kemarau.

Debit sumber air baku yang digunakan saat ini dinilai tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat ketika terjadi penurunan debit sungai.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Mahulu Didik Subagya mengatakan, kondisi tersebut menjadi  satu penyebab distribusi air kepada masyarakat terganggu.

Bahkan ketika kemarau berlangsung sekitar satu minggu, ketersediaan air baku sudah tidak mampu menopang operasional sistem penyediaan air.

“Debit yang kami punya memang tidak mampu. Makanya sekarang kalau kemarau sedikit, seminggu sudah tidak tahan airnya. Itu persoalannya,” kata Didik saat dikonfirmasi, Selasa (18/8/2026).

Kondisi tersebut terjadi karena sumber air baku yang digunakan saat ini masih bergantung pada sumber yang kapasitasnya terbatas. Karena itu, pemerintah daerah telah menyiapkan desain pengembangan dengan menggabungkan sumber air dari Aguan dan Long Melaham (Lome).

Kalau kedua sumber tersebut nantinya dapat terhubung, kapasitas air baku yang tersedia diperkirakan mencapai sekitar 47 liter per detik. Jumlah tersebut dinilai mampu memenuhi kebutuhan air masyarakat dalam jangka panjang.

Berdasarkan kajian yang dilakukan PUPR, kebutuhan air di wilayah Ujoh Bilang dan sekitarnya diproyeksikan mencapai sekitar 37 liter per detik dengan asumsi pertumbuhan kebutuhan sekitar enam persen. Dengan kapasitas gabungan sekitar 47 liter per detik, kebutuhan tersebut dinilai masih dapat dipenuhi.

“Kalau yang di Lome sudah terbangun dan digabung, air bakunya cukup. Kajian kami kebutuhan Ujoh Bilang dan sekitarnya dengan pertumbuhan enam persen lebih itu kebutuhannya sekitar 37 liter per detik. Sementara kemampuan dua sumber kalau digabung sekitar 47 liter per detik,” jelasnya.

Namun, pembangunan sumber air baku di Lome hingga kini belum terealisasi karena adanya keterbatasan anggaran. Didik menyebut pemotongan anggaran turut memengaruhi rencana pembangunan tersebut.

Pembangunan sumber air baku Lome menjadi salah satu solusi utama agar sistem penyediaan air di Ujoh Bilang tidak lagi terlalu bergantung pada air baku Sungai Mahakam.

“Kalau yang di Lome sudah terbangun, cukup. Itu saja persoalannya. Kalau sudah tersambung dan terkoneksi, kebutuhan air baku kita bisa terpenuhi,” ujar Didik.

Selain persoalan kuantitas, penggunaan air Sungai Mahakam sebagai sumber air baku juga memiliki tantangan dari sisi pengolahan. Air permukaan tersebut membutuhkan perlakuan lebih banyak sebelum dapat didistribusikan kepada masyarakat.

Karena itu, ke depan PUPR berupaya secara bertahap mengurangi ketergantungan terhadap air baku Sungai Mahakam dengan memanfaatkan sumber air yang dinilai lebih sesuai untuk sistem penyediaan air bersih.

Sistem yang dirancang nantinya memanfaatkan air permukaan yang ditampung terlebih dahulu pada bak penampungan. Setelah tertampung pada ketinggian tertentu, air akan didistribusikan menggunakan sistem gravitasi sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada pompa.

“Air yang diambil nanti air permukaan, bukan air tanah. Setelah tertampung, baru didistribusikan dengan gravitasi. Jadi tidak menggunakan pompa,” sebut Didik.

Rencana pengembangan tersebut juga akan diintegrasikan dengan jaringan distribusi yang sudah ada. Salah satu skemanya, sumber air dari Lome akan dikoneksikan dengan jaringan lama di Ujoh Bilang sehingga cakupan pelayanan dapat diperluas.

PUPR Mahulu sudah menyampaikan persoalan pembangunan sumber air tersebut dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama DPRD Mahulu. Pembangunan sumber air baku Lome diusulkan menjadi salah satu prioritas karena berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat.

“Di RDP Dewan sudah saya minta, karena ini menjadi prioritas,” pungkasnya. 

Editor: Aspian Nur 

Kemarau Kembali Ganggu Distribusi Air Bersih di Mahulu

Selasa, 18/08/2026

Salah satu tempat produksi sumber air baku di sekitar Gunung Simpang Aguan Kampung Ujoh Bilang  yang mengalami penurunan debit hingga mengering saat musim kemarau. (Foto: Julika/Korankaltim.com)

Share

Berita Terkait