Selasa, 18/08/2026

Dinkes Mahulu Waspadai Risiko ISPA dan Diare di Musim Kemarau

Selasa, 18/08/2026

Sejumlah warga menunggu pelayanan di RS Gerbang Sehat Mahulu (RS GSM), Ujoh Bilang. (Foto: Julika/Korankaltim.com)

Share
Join Grup Telegram Koran Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/+SsC4jer3I5syZWU1 atau klik tombol dibawah ini.

Grup Telegram Koran Kaltim

kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dahulu di ponsel.

Berita Terkait

Dinkes Mahulu Waspadai Risiko ISPA dan Diare di Musim Kemarau

Selasa, 18/08/2026

logo

Sejumlah warga menunggu pelayanan di RS Gerbang Sehat Mahulu (RS GSM), Ujoh Bilang. (Foto: Julika/Korankaltim.com)

Penulis: Julika Hengin

KORANKALTIM.COM, UJOH BILANG - Dinas Kesehatan  Kabupaten Mahakam Ulu (Dinkes Mahulu) mewaspadai peningkatan penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan diare selama musim kemarau berlangsung.

Meski hingga saat ini belum terjadi peningkatan kasus secara signifikan, kondisi lingkungan dan menurunnya debit air sungai dinilai dapat meningkatkan risiko penyakit.

Kepala Dinkes Mahulu Petronela Tugan mengatakan penyakit yang umum muncul atau berisiko meningkat saat musim kemarau adalah ISPA dan diare.  ‎Untuk ISPA kasus memang cukup banyak ditemukan, tetapi sebagian masyarakat memilih melakukan pengobatan secara mandiri sehingga tidak seluruh kasus tercatat melalui pelayanan puskesmas.

“Memang banyak yang kena ISPA, tapi banyak yang mengobati diri sendiri saja, sembuh. Jadi mereka tidak sampai ke puskesmas,” kata Petronela.

Sementara risiko penyakit diare menjadi perhatian karena kondisi debit sungai yang semakin rendah. Berkurangnya volume air dapat menyebabkan konsentrasi bakteri di dalam air meningkat, terlebih apabila masyarakat masih menggunakan sungai untuk kebutuhan sehari-hari.

‎“Karena dengan debit air yang kurang, jumlah bakteri itu bisa lebih banyak,” sebut Petronela.

Masyarakat diingatkan agar tidak membuang sampah ke sungai, terutama popok sekali pakai yang masih mengandung tinja anak.  ‎Limbah tersebut berpotensi mencemari sumber air dan meningkatkan risiko kontaminasi bakteri Escherichia coli (E. coli). Kondisi air sungai yang terlihat jernih tidak dapat menjadi jaminan bahwa air tersebut aman digunakan. ‎“Walaupun jernih, belum tentu itu bersih,” tegasnya.

Selain risiko diare, kemarau juga meningkatkan potensi gangguan pernapasan akibat paparan debu dan asap. Risiko tersebut dapat semakin tinggi apabila terjadi kebakaran hutan dan lahan yang menyebabkan kabut asap.

Peningkatan kasus diare yang signifikan dapat menjadi perhatian terhadap kemungkinan terjadinya kejadian luar biasa (KLB).  ‎Sementara ISPA tidak dikategorikan sebagai penyakit yang mengalami KLB, meski risikonya meningkat pada musim kemarau akibat paparan asap dan debu.
‎‎

“Kalau ada peningkatan kasus yang signifikan, itu bisa kejadian luar biasa, biasanya pada diare. Kalau ISPA memang tidak ada kasus kejadian luar biasa,” jelasnya.

Mengantisipasi kondisi tersebut, Dinkes Mahulu juga memastikan ketersediaan logistik obat, khususnya untuk wilayah yang memiliki akses pelayanan dan transportasi relatif sulit. Pemenuhan logistik menjadi perhatian terutama bagi dua kecamatan di wilayah perbatasan.
‎‎

“Yang pertama kami upayakan untuk tetap memenuhi kebutuhan logistik obat, terutama di dua kecamatan yang ada di perbatasan yang aksesnya sangat sulit saat ini,” ujar Petronela.

Distribusi logistik kesehatan sejauh ini masih berjalan dengan baik. Kondisi kemarau yang baru berlangsung kurang lebih satu bulan belum memberikan hambatan berarti terhadap distribusi, terutama selama akses jalan darat masih dapat dilalui.

Selain menghadapi risiko penyakit selama kemarau, masyarakat juga diminta mulai mewaspadai perubahan kondisi saat memasuki musim pancaroba.

Hujan yang turun setelah periode kemarau dapat meningkatkan potensi munculnya tempat berkembang biak nyamuk dan berisiko memicu peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD).

Petronela mengimbau masyarakat menjaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi, memenuhi kebutuhan cairan dan mengonsumsi air putih yang aman serta higienis. Masyarakat juga diminta menjaga kebersihan lingkungan untuk mencegah pencemaran sumber air dan berkembangnya berbagai penyakit. ‎

“Yang pertama kami minta masyarakat menjaga kesehatan dirinya sendiri, yaitu meningkatkan daya tahan tubuh dengan makan makanan yang bergizi, minum multivitamin dan banyak minum air putih,” tutup Petronela.

Editor: Aspian Nur

Dinkes Mahulu Waspadai Risiko ISPA dan Diare di Musim Kemarau

Selasa, 18/08/2026

Sejumlah warga menunggu pelayanan di RS Gerbang Sehat Mahulu (RS GSM), Ujoh Bilang. (Foto: Julika/Korankaltim.com)

Share

Berita Terkait