Meski kecewa, ibunda Gregorius Attara, Veronika Ulan terlihat tegar saat Korankaltim.com bertandang ke kediamannya, di Kampung Asa, Barong Tongkok, Kutai Barat.
Veronika bercerita, putra pertama mereka itu memang dikenal berprestasi sejak duduk di bangku sekolah dasar. "Kami tahu betul perjuangan anak kami dari awal sampai sekarang" ungkapnya.
Keluarga menilai ada sesuatu yang aneh dari keputusan BPIP yang tak meloloskan siswa SMAN 1 Sendawar itu. Sebab, di tingkat kabupaten maupun provinsi, Gregorius Attara keluar sebagai peserta terbaik. "Kami tidak tahu kekurangan anak kami di mana" imbuhnya.
Menurut Veronika, psikologis Attara untuk sekarang ini sudah jauh lebih kuat dari sebelumnya, kluarga ini selalu menanamkan sikap untuk berjiwa besar sejak dini. Support dan perhatian pun diberikan dari pihak keluarga, rekan maupun purnapaskibraka.
"Kami keluarga selalu mengajarkan kepada anak-anak untuk selalu siap menghadapi setiap kegagalan ataupun kesuksesan" tutupnya.
Keluarga masih berharap Gregorius Attara yang menempati posisi cadangan bisa kembali dipanggil dalam tim inti paskibraka yang secara perdana digelar di Ibu Kota Nusantara (IKN) pada 17 Agustus nanti. Tujuannnya tak lain agar Gregorius Attara bisa mengharumkan Kutai Barat dan juga menjadi motivasi bagi pelajar di daerah itu.
Sebelumnya, Kepala Bidang (Kabid) Ideologi Wawasan Kebangsaan dan Karakter Bangsa Kesbangpol Kaltim, Syarifuddin Noor tak menampik jika Gregorius Attara merupakan peserta terbaik hasil seleksi di tingkat provinsi.
Dalam Berita Acara yang diterbitkan Kesbangpol, nama Gregorius Attara bahkan menempati posisi teratas dari empat orang yang direkomendasikan ke BPIP. Namun, karena peserta asal Kota Balikpapan mengalami buta persial, ia tak diloloskan. BPIP kemudian meminta Kesbangpol untuk merekomendasikan satu nama lagi, yakni Sunnu Wahyudi asal Kutai Timur.
Celakanya, Gregorius Attara yang merupakan peserta terbaik asal Kaltim justru tersingkir saat seleksi tingkat nasional di Jakarta.
"Kesbangpol Kaltim tidak ada wewenang apapun, karena dalam proses seleksi di Jakarta kami hanya mengantarkan sampai ke pemberangkatan di bandara saja. Untuk keputusan peserta yang dinyatakan lolos itu merupakan kebijakan dari tim nasional," pungkasnya.
Editor: Supiansyah